Ayah Bunda, Yuk Belajar Mengenal Sistem Sensori!

Sensori adalah kata serapan dari bahasa Inggris yaitu sensory. Sensory artinya sesuatu yang berhubungan dengan panca indera. Namun jika sensory kita ambil kata dasarnya yaitu sense, maka ia bisa berarti pengertian, perasaan, rasa, pendirian, pikiran sehat dan indera. Di dalam bahasa Indonesia, sensori selalu disematkan dengan “panca” indera walau sebenarnya konsep sensori bukan hanya lima. Dalam pembahasan kita selanjutnya akan diterangkan bahwa indera manusia itu yang sebenarnya bukan lima, namun terdapat tujuh alat sensori yaitu Proprioseptif, (otot/persendian), Vestibular (keseimbangan tubuh), Taktil (peraba), Visual (penglihatan), Auditori (pendengaran), Gustatori/Oral (pengecap), Olfaktori (pembau). Dasar teori sensori ini disebut juga dengan konsep Sensory Integration.

Teori Sensory Intregation ditemukan dan dikembangkan oleh seorang dokter anak bernama Jean Ayres (1972, 1979, 1989). Beliau mencari keterkaitan antara kegiatan bermain pada masa anak-anak dan proses kerja otak, sehingga sensory intregation juga merupakan salah satu ilmu dari neuroscience yaitu ilmu yang mencari keterkaitan antara cara kerja otak dengan perilaku yang dapat diamati. Menurut Jean Ayres, ketika seorang anak mengintegrasikan informasi-informasi sensorik dari gerak tubuhnya, gaya tarik bumi, juga informasi dari kulit, mata, telinga, mulut dan hidungnya dan memungkinkan anak untuk bergerak dengan bebas dan aktif. Dengan mengintegrasikan informasi-infomrasi sensorik tersebut, maka anak akan merasa mampu menguasai dirinya yang dalam hal ini bertujuan untuk memberikan reaksi:

  1. tubuh/fisik yang sesuai
  2. penghayatan/persepsi yang akurat
  3. emosi/perasaan yang adekuat
  4. perilaku yang adaptif/sesuai dengan lingkungan

Sebagai contoh, ketika seorang anak usia 13 bulan dan ingin minta mainan masak-masakannya, maka anak akan menengadahkan tangannya sebagai bentuk (reaksi fisik). Lalu ketika diberikan pilihan mainan, anak tersenyum (mengekspresikan rasa senang), memilih mainan yang ia minta dan memainkan mainan tersebut seperti menggoreng (persepsi). Lalu anak berkata dan mengajak ibunya ikut bermain bersama (perilaku yang tampak). Dengan demikian, maka secara keseluruhan perilaku yang tampak pada anak sesuai dengan konteks dan lingkungan di sekitarnya. Ia dapat bereaksi fisik, merasakan dan mempersepsikan segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan yang dialaminya. Jadi sangat penting bagi orangtua untuk memberikan anak stimulasi sensori.

Penulis: Siti Maulany, S.Psi

picture: People photo created by prostooleh – www.freepik.com