Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Pernahkan ayah bunda merasa kesal karena anak kerap melakukan kesalahan ? sudah disampaikan beberapa kali tapi anak masih melakukan kesalahan dan ngeyel ? Jika iya, bisa jadi masih ada pola yang keliru saat kita menyampaikan kritik dan nasihat kepada anak. Kritik yang bersifat penilaian/ judgement dapat meningkatkan sensitivitas perasaan anak. Sudah sedih karena habis melakukan kesalahan dimarahi pula, kira-kira bagaimana perasaan anak jika mengalami hal tersebut ? Tentunya anak akan lebih emosional, merasa tertindas, rendah diri hingga sulit menerima masukan dan mungkin bersikap lebih agresif. Dalam kehidupan kita memerlukan kritik sebagai bentuk evaluasi, perbaikan dan pencarian solusi atas apa yang dilakukan. Namun untuk memberi kritik kepada anak perlu dilakukan lebih hati-hati dikarenakan perasaan anak yang lebih sensitif dan masih sulit menilai sesuatu secara objektif. Memberikan kritik berlandaskan cinta dengan cara komunikasi yang tepat akan mampu membantu perkembangan anak. Lalu bagaimana sikap yang perlu diperhatikan orangtua dalam mengkritik anak ? Berikut 4 cara memberi kritik yang bijak pada anak :

1. Tunjukan Masalah yang Dihadapi secara Deskriptif

Jika anak melakukan kesalahan janganlah cepat menilai, jelaskan kepada anak hal yang masih keliru dan yang perlu dibenarkan secara bijak. Alih-alih memberi penilaian dengan kata-kata yang bersifat judgement seperti “kamu salah, masa gini aja nggak bisa nak,” dsb., solusi terbaik adalah mengajak anak diskusi untuk mengenal lebih dalam usaha dan prestasi yang sudah dilakukan anak sebelumnya. Kemudian jelaskan kepada anak masalah yang sebenarnya sedang mereka alami dengan cara yang objektif. Misalnya “mama paham kamu masih kesulitan belajar perkalian ya ? jangan khawatir kita belajar sama-sama lagi ya. Kalau masih kesulitan, mama bisa bantu ngajarin kamu atau bertanya sama guru di sekolah”. Bicaralah dengan tenang dan sabar agar tercipta komunikasi yang baik antara orangtua dan anak, tentunya hal ini juga dapat membantu anak untuk dapat bijak dalam berpikir dan menerima kritikan maupun nasihat dari orang lain.  

2. Jelaskan Kepada Anak Konsekuensi dari Kesalahan Mereka

Salah satu hal penting lainnya adalah anak memahami maksud dari kritik yang didapatkannya. Ketika kita memberi kritik kepada anak, pastikan anak memahami bahwa hal yang membuat kita khawatir adalah karena perilaku yang dilakukan, bukan karena diri mereka. Misal ketika anak memanjat benda, beritahu anak bahwa kita khawatir dengan hal tersebut karena dapat membahayakan. Jelaskan kepada anak bahwa kita tidak ingin mereka terjatuh dan terluka. Dengan menjelaskan konsekuensi yang mungkin dapat terjadi, akan membuat anak lebih menerima kritik dan anjuran yang diberikan kepada mereka.

3. Dengarkan Penjelasan dan Terima Perasaan Anak

Perlu diingat ya ayah bunda, bahwa tujuan memberi kritik adalah agar anak dapat menyadari kesalahannya, mampu memperbaikinya dan tidak mengulangi hal yang sama. Maka saat menghadapi situasi tersebut jangan sampai keburu emosi. Ajak anak untuk menjelaskan detail kejadian yang dialaminya. Kemudian bimbing anak untuk mencari jalan keluar menyelesaikan masalahnya. Bila dirasa anak masih kesulitan dan belum memahami situasi/masalah yang sedang dihadapinya kita dapat menawarkan bantuan dan mengajak anak untuk menyelesakan masalah bersama-sama. Dengan cara ini, diharapkan anak dapat belajar untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya saat ini maupun di masa yang akan datang.

4. Berbicara dengan Kata Positif

Walaupun ayah bunda terpancing emosi, pastikan apa yang diucapkan tetap dalam bahasa yang positif. Penggunaan kata yang positif dapat meredakan emosi negatif yang dirasakan anak ketika menghadapi kesalahan, seperti takut, cemas, kesel, dsb. Sampaikan kritik kita dengan bahasa dan intonasi yang mengajak diskusi, bukan menilai atau menyalahkan. Misal anak mengalami prestasi yang menurun di sekolah, dibandingkan menggunakan kata-kata “gimana sih nak ini kenapa masih masalah.. kemarin kan udah diajarin”, dsb. maka orangtua dapat mengatakan “ibu paham adik masih kesulitan ya ?… kalau begitu menurut adik kita perlu melakukan apa biar ujian selanjutnya nilai adik bisa lebih baik ?” atau ketika anak tidak teliti jangan menyalahkan “ini kamu salah dik.. belum teliti ini” maka orangtua dapat mengatakan “ayah berharap nanti selanjutnya adik bisa lebih teliti ya mengerjakan tugasnya biar hasilnya lebih maksimal”.

Penulis : Annisa Mutmainah, S.Pd

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail