Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Tahun ajaran baru sudah tiba! Saatnya anak untuk masuk ke dunia baru untuk pertama kalinya, yaitu sekolah. Suara tangisan, teriakan dan rasa sedih anak saat harus masuk ke kelas adalah momen yang sering dialami orangtua di hari pertama anak sekolah. Anak yang seharusnya belajar dengan ceria bersama teman-teman baru jadi tidak mau lepas dengan orangtua. Akhirnya, orangtua ikut menunggu di dalam kelas.

Dalam bahasa psikologi, perasaan sulit ditinggal oleh orangtua atau orang terdekat disebut separation anxiety. Menurut beberapa penelitian hal ini wajar dialami oleh perkembangan anak usia 18 bulan hingga usia masuk sekolah dasar. Seiring berjalannya waktu, anak perlahan-lahan akan bisa berbaur dengan lingkungan barunya. Namun agar fase pemisahan orangtua dengan anak di sekolah dapat berjalan dengan baik, alangkah baiknya jika orangtua melakukan beberap tips berikut:

  1. Katakan pada anak bahwa orangtua memahami perasaannya

Saat anak sedang menangis tidak mau berpisah, katakanlah padanya bahwa kita sebagai orangtua memahami perasaannya. Katakan pada anak bahwa wajar jika sekarang anak merasa cemas dan takut. Diskusikan dengan anak tentang hal apa yang ia takutkan. Jelaskan bahwa keadaan akan baik-baik saja dan nantinya anak akan merasa senang di sekolah. Ingatkan juga suatu momen dimana anak dapat mengatasi ketakutannya seperti saat pertama kali belajar berenang atau aktivitas lainnya dimana anak pada akhirnya memiliki keberanian untuk melakukannya.

  1. Tidak meninggalkan anak secara diam-diam

Terkadang, orangtua tergoda untuk meninggalkan anak secara diam-diam saat ia sedang lengah. Ternyata tindakan tersebut bukan cara yang baik. Menurut Kasey Davis, seorang psikolog anak asal Amerika di St. Louis Children’s Hospital, pergi meninggalkan anak secara diam-diam hanya membuat anak tidak mempercayai orangtuanya lagi. Anak akan berpikir lebih baik tidak sekolah dibanding harus ditinggalkan orangtua. Dari cara tersebut anak tidak akan belajar tentang bagaimana cara berpisah yang baik. Untuk menghindarinya, pamitlah kepada anak jika orangtua harus pergi untuk sementara. Bersikaplah tenang, semangat dan ceria agar aura positif itu dirasakan oleh anak. Hindarkan drama perpisahan yang berlebihan, karena akan membuat anak menjadi sulit ditinggalkan.

  1. Memberi contoh yang baik pada anak

Orangtua memegang peranan penting dalam hal modelling. Tunjukkan pada anak bahwa orangtua memiliki sifat yang ramah terbuka dengan orang yang ada di sekolah maupun di luar sekolah. Orangtua yang hangat dan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru akan membuat anak memahami bahwa bertemu dengan teman-teman baru adalah hal yang menyenangkan. Contohkanlah hal-hal man

  1. Membiasakan anak untuk berinteraksi dengan orang lain

Zaman sekarang banyak sekali komunitas yang menyediakan aktivitas bermain untuk anak (play date). Libatkanlah anak dalam acara komunitas bermain tersebut. Tidak hanya bermain dengan orangtua, play date di luar juga memfasilitasi anak-anak untuk dapat belajar mengenal dan bekerjasama dengan anak lain. Selain ikut acara di komunitas tertentu, bermain dengan anak-anak seusianya di sekitar rumah juga dapat menjadi cara yang  efektif untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya.

Jika anak sering mengikuti aktivitas semacam ini, rasa cemas dan takut ketika bertemu lingkungan baru pun akan berkurang, termasuk di sekolah. Bertemu teman akan menjadi hal biasa baginya kelak.

  1. Hargai pencapaian anak

Jika anak sudah mulai berani ditinggal meskipun dalam jangka waktu yang sebentar, berilah apresiasi atas usaha yang dilakukannya. Tidak hanya tentang urusan sekolah, memberikan pujian saat anak mampu menyelesaikan tugas di rumah juga dapat meningkatkan keyakinan akan dirinya sendiri bahwa pada akhirnya ia mampu menyelesaikan sesuatu yang dirasa sulit olehnya. Apresiasi yang diberikan orangtua akan meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian anak.

Jika separation anxiety terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama bahkan sudah menganggu aktivitas sekolah, orangtua dapat melakukan konsultasi kepada guru atau psikolog untuk penanganan yang lebih lanjut.

 

Semoga bermanfaat yaa ayah bunda. Happy parenting

Penulis: Amelia Ajrina, S.Psi

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail