Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Secara umum gerak adalah situasi berpindahnya posisi dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun pada anak dengan kasus autisme, gerak merupakan salah satu gangguan sensori karena sifat sensor geraknya yang terkadang masih berlebihan atau dikenal dengan hiperaktif, namun adapula yang kekurangan atau dikenal dengan hipoaktif. Pada kasus hiperaktif, hal ini bisa dilihat dari gejala diantaranya anak suka melompat – lompat, menabrakkan dirinya atau menjatuhkan dirinya ke kasur atau orang lain serta melakukan sesuatu dengan kekuatan penuh. Sedangkan pada kasus hipoaktif hal ini dapat ditandai dengan tidak adanya respon secara cepat dari anak, tidak ada respon sama sekali, kurangnya minat pada suatu permainan yang melibaatkan fisik, dan cenderung suka menyendiri dari suatu tugas. Seperti gangguan sensori lainnya, hambatan ini dapat mempengaruhi cara anak dalam menulis dan kemampuan anak saat berjalan nantinya. Maka dari itu anak perlu diberi stimulus sensori gerak yang lebih terarah. Anak yang mengalami gangguan sensori gerak, baik hiperaktif maupun yang hipoaktif perlu diberi stimulus yang dapat di berikan melalui permainan, olahraga dan aktivitas sehari-hari. Namun, aktivitas bermain dinilai lebih efektif untuk menstimulus gangguan gerak pada anak karena banyak unsur yang mendorong stimulasi gerak seperti kondisi fisik, kecepatan, koordinasi tangan-kaki-mata dan keseimbangan.

Permainan yang dapat dimanfaatkan salah satunya adalah bermain bola.  Ada berbagai teknik yang dapat digunakan untuk mempelancar anak bermain bola  diantaranya yaitu passing dan shooting, yang mana passing adalah mengoper bola atau memindahkkan bola sedangkan shooting adalah menembak atau menendang bola. Dengan menggunakan teknik ini anggota tubuh akan bergerak yang kemudian akan mempengaruhi kemampuan aktivitas gerak anak. Bagi anak yang hiperaktif maupun hipoaktif, teknik dan gerakan dari bermain bola akan membantu anak melatih kemampuannya dalam mengatur dan mengendalikan gerak tubuh. Anak akan belajar untuk kapan harus menahan bola, kapan harus melakukan gerakan cepat, melakukan gerakan lambat dan kapan perlu berhenti atau diam.  

Untuk memulai aktivitas bermain bola, orangtua, guru atau pengasuh perlu mengajak anak untuk tertarik dalam permainan ini, karena tidak semua anak suka bermain bola. Hal ini cukup terlihat pada anak dengan kondisi hipoaktif karena kecenderungan mereka yang diam atau pasif, sehingga membutuhkan waktu untuk bisa memperkenalkan dan membuat anak nyaman dan tertarik pada teknik passing-shooting saat bermain bola. Pada anak dengan kasus hiperaktif, kita perlu memberikan instruksi yang harus dipatuhi oleh anak. Bila anak sudah mampu mengikuti instruksi dan terlihat nyaman, ajak anak untuk melakukan gerakan passing-shooting sederhana. Misalkan saat pertama kali bermain bola, ajak anak melakukan 5x gerakan menendang ke arah sasaran yang sudah ditentukan. Selanjutnya ajak anak untuk menggiring bola dengan memberikan batasan waktu dan jarak yang sederhana untuk ditempuh anak. Lakukan aktivitas ini sesering mungkin agar anak, baik dengan kondisi hiperakif maupun hipoaktif, mampu mengatur gerak tubuhnya. Setelah anak mulai menguasai gerakan yang diajarkan, aktivitas ini juga dapat divariasikan dengan teknik-teknik lainnya.

Penulis: Dicky Age Tresna, S.Pd

Picture: <a href=’https://www.freepik.com/photos/people’>People photo created by prostooleh – www.freepik.com</a>


Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail