Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Ketika kita bicara tentang toilet training, kita bicara tentang kebutuhan. Kebutuhan anak untuk menjadi mandiri mengkontrol kebutuhan biologisnya sendiri serta kebutuhan orangtua untuk terbebas dari budgeting dana untuk popok yang tiap bulan semakin mahal karena ukuran yang diperlukan anak semakin besar.

Toilet training mencakup dua kemampuan dasar yaitu kemampuan untuk buang air kecil di toilet dan kemampuan untuk buang air besar ditempatnya. Kemampuan ini sudah dapat dikenalkan sejak anak berusia 12 bulan. Fase perkenalan ini adalah fase penting yang menentukan pada usia berapa anak bisa fully trained. Jika anak sama sekali belum dikenalkan dengan konsep dan kebiasaan toilet training, maka orangtua sebaiknya melalui tahapan tersebut terlebih dahulu bersama anak sebelum mencoba langkah-langkah dibawah ini.

Ketika fase perkenalan sudah dilakukan dengan cara yang sesuai dengan usianya dan secara konsisten sejak usia 12 bulan maka diharapkan pada usia 18 bulan 3 hari atau 24 bulan 3 hari, anak bisa secara adaptif lulus toilet training. Kenapa ada 3 harinya ya? Yupz, karena sekarang kita akan sama-sama membahas bagaimana cara melakukan toilet training dalam 3 hari secara sederhana dan menyenangkan.

1. Kenalkan dan siapkan

Sekitar 1 atau 2 minggu sebelum orangtua memulai latihan ini, maka sebaiknya anak dibiasakan dengan cerita. Ceritkan bahwa 7 hari lagi atau 6 hari lagi atau 5 hari lagi, anak akan melakukan latihan toilet training dan anak benar-benar lepas dari popok. Ajarkan juga sebuah tanda yang anak, orangtua, dan pengasuh lainnya sama-sama pahami sebagai tanda anak mau BAK dan BAB.

2. Kenali kesiapan anak

Sebelum mulai latihan utama yang perlu dikenali adalah kesiapan anak. Toilet training is about teamwork between parents and one’s child. Sebelum memulai latihan pastikan orangtua sudah mengenali ritme kebutuhan biologis anak. Bagaimana pola BAB dan BAK anak, gesture atau kata-kata apa yang digunakan anak untuk menampilkan kebutuhannya ke kamar mandi, dan terkadang ada anak yang bahkan menampilkan tempat favoritnya untuk BAB. Setelah semua informasi tentang kesiapan anak terpenuhi barulah orangtua bisa menentukan kapan waktu yang pas untuk memulai latihan fully toilet trained.

3. Kenali kesiapan orangtua

Orangtua pun perlu persiapan sebelum memasuki tahapan latihan 3 hari ini. Pastikan orangtua siap dengan segala kondisi kotor dan segala jenis kotoran yang mungkin muncul ditempat-tempat yang tidak diharapkan. Ayah dan ibu serta oranglain yang ada dirumah diharapkan siap untuk saling mendukung menghadapi hal terburuk yang mungkin muncul seperti pipis setiap 30 menit, ngompol sehari lima kali sehingga cucian baju menumpuk atau bahakan anak BAB di sprei kamar utama orangtua.

4. Kenali teknik yang sesuai untuk anak dan orangtua

Orangtua siap. Anak siap. Seluruh anggota keluarga siap. Langkah selanjutnya adalah menyiapkan teknik yang tepat untuk anak. Tiap anak memiliki resistansinya masing-masing terhadap masing-masing teknik. Walaupun demikian, melatih toilet training dengan kondisi “coba-coba saja” sangat tidak dianjurkan.

Bermodalkan hasil pengamatan sebelumnya, orangtua diharapkan sudah memiliki gambaran tentang apakah anak lebih memilih latihan langsung ke toilet atau menggunakan transisi ke potty? Jika lebih menyukai langsung ke toilet maka dalam latihannya anak sudah bisa rutin dibawa ke kamar mandi setiap mendekati periode BAK dan / atau setiap kali mendekati jadwal BAB dan / atau setiap kali menampilkan keinginan untuk BAK/BAB.

5. Utamakan keselamatan

Anak siap, orangtua siap, dan teknik pun siap. Selanjutnya pastikan area latihan adalah area yang aman. Jika menggunakan potty dihari pertama, pastikan potty diletakkan ditempat-tempat yang strategis, bersih, tidak licin, dan aman. Jika anak lebih menyukai langsung ke toilet, gunakan kids toilet seat yang ergonomis dengan toilet anda atau biasakan anak dengan posisi duduk menghadap ke tangki air toilet duduk sehingga anak tidak mudah jatuh saat BAB atau / dan BAK bagi anak perempuan.

6. Konsisten lepaskan popok

Ketika orangtua berkomitmen untuk melepaskan popok dan mendampingi anak berhasil toilet trained dalam tiga hari maka penuhi komitmen tersebut. Liburkan anak dari popok selama 3 hari penuh. Biasakan anak nyaman tanpa popok dan biasakan diri membersihkan kotoran anak yang menyebab di lingkungan rumah.

7. Konsisten ajak anak bersihkan kotorannya.

Konsistensi adalah kunci keberhasilan banyak hal, termasuk keberhasilan toiled training. Membersihkan kotoran yang terbuang diluar toilet memberikan pemahaman atas konsekuensi yang konsisten akan didapat anak jika ia tidak membuang kotorannya di toilet.

8. Rayakan keberhasilan anak

Keberhasilan adalah sesuatu yang perlu dirayakan terutama keberhasilan melakukan toilet training karena toilet training adalah pelatihan kompleks yang melibatkan kemampuan kognisi, fisik, dan emosional anak. Perayaan keberhasilan seperti tepukkan tangan, ciuman, atau sorakan bahagia dapat menambah rasa percaya diri anak bahwa ia bisa melakukan BAK dan BAB ditempatnya. Keberhasilan dapat dirayakan saat anak bisa menyatakan keinginan BAB /BAK dengan tepat atau saat anak bisa menahan BAB dan BAK nya hingga ia sampai di toilet.

9. Generalisasi

Ini kunci penentu keberhasilan toilet training anak dalam 3 hari. Jika memungkinkan lakukan latihan dua hari dirumah dan satu hari diluar rumah seperti dirumah nenek-kakek, rumah saudara, atau tempat keramaian lain. Lakukan pula generalisasi dimalam hari. Saat malam, lakukan latihan ini bergantian dengan pasangan anda. Saat latihan generalisasi toilet training dimalam hari, tidur orangtua kemungkinan besar tergangu. Namun lebih baik tidur terganggu selama 3 malam atau tidur terganggu hingga anak kelas 3 SD?

Happy Parenting, Parents.. :*

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail