Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Ketrampilan sosial (social skills) adalah satu set perilaku yang terbentuk karena adanya proses belajar. Beberapa anak mempelajari ketrampilan social secara otomatis berdasarkan observasi dan ada atau tidaknya respon positif dari orang lain. Ketrampilan sosial seringkali menjadi unsur penentu keberhasilan anak di lingkungannya sehari-hari. Bagi sebagian besar profesional dan orangtua, mengajarkan ketrampilan sosial sama pentingnya dengan mengajarkan menulis dan berhitung.

Menurut beberapa ahli, kemampuan paling dasar dari ketrampilan sosial adalah:

1. Melihat

Hampir sebagian besar proses belajar bermula dari hasil pandangan. Anak memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap sesuatu yang sering ia lihat. Semakin sering dilihat maka akan semakin tinggi minat anak untuk melihat dengan detail. Latihan untuk biasa melihat dengan detail dan memilih detail apa saja yang perlu dilihat, dapat dilatih ke anak sejak usia bayi.

Saat usia bayi kurang dari 3 bulan, secara tidak sengaja atau disengaja, ibu seringkali membiarkan bayi menggenggam jarinya dan kemudian menggerakkan jari tersebut sehingga genggaman bayi pun bergerak. Gerakkan itu akan memicu bola mata dan pandangan anak bergerak sesuai perpindahan genggaman yang terjadi dan memicu anak untuk meningkatkan ketrampilan melihatnya.

Dengan berjalannya waktu, saat anak berusia 18 bulan dan sedang prime-time untuk explorasi lingkungan dan kemampuan berbahasa, hamper semua anak dapat dengan otomatis meningkatkan ketrampilan melihatnya. Setiap kata yang disebutkan orangtua menarik perhatiannya. Setiap benda yang dilabel orangtua pasti mendapatkan perhatian dan pandangannya. Setiap perilaku social yang dilakukan orangtua secara konsisten dihadapannya, pasti memicu rasa ingin tahu nya dan terekam di memorynya.
Jika ingin melatih anak terbiasa mengucapkan “terima kasih”, “maaf”, “saya sayang …. (mama/papa/dll)“, maka biasakan anak melihat orangtua mengucapkan hal tersebut di kehidupan sehari-hari.

2. Berpikir

Manusia adalah mahluk yang aktif. Sejak dilahirkan manusia sudah terbiasa memberikan makna atas apa yang dilihatnya. Bayi yang baru lahir menangis sebagai tanda kesadarannya atas perubahan lingkungan yang terjadi. Anak bayi menggenggam lebih erat ketika salah satu jari ibu disematkan digenggamannya. Balita tersenyum saat orang yang ia kenal menghampirinya. Anak menangis saat ia melihat ayah pura-pura mencubit ibunya.

Perilaku-perilaku diatas mengindikasikan bahwa manusia aktif memberikan makna atas segala sesuatu yang dilihatnya, terutama apa yang terjadi dilingkungan sekitarnya. Secara sederhana, anak akan memberikan makna apakah perilaku yang sering ia lihat dilakukan oleh ayah/ibunya diterima secara social. Jika anak berpikir bahwa perilaku tersebut diterima social maka anak akan cenderung mengulanginya. Ini merupakan salah satu dasar berpikir mengapa anak-anak yang dibesarkan di satu lingkungan tertentu cenderung memiliki ketrampilan social yang serupa.

3. Melakukan

Proses belajar yang paling dinanti-nanti adalah penampakan hasil. Setelah anak melihat dan memproses apa yang ia lihat, anak diharapkan dapat melakukan ketrampilan-ketrampilan social yang telah dipaparkan sebelumnya. Namun apakah setiap anak yang sudah melihat detail dan memaknai suatu perilaku dengan tepat pasti akan mampu menampilkan hasil yang diharapkan? Jawabannya “Tidak”.

Anak perlu kesempatan untuk mencoba melakukan kembali apa yang pernah ia lihat dan maknai. Anak perlu bantuan dan masukkan positif saat ia berusaha melakukan kembali apa yang telah ia pelajari. Dan ya, anak perlu respon positif atas segala hasil yang ia tampilkan.
Dengan memahami dan menguasi ketiga ketrampilan dasar tersebut maka aturan-aturan social yang terkait dengan komunikasi verbal dan non-verbal termasuk kesopanan akan sangat mudah dipahami dan diaplikasikan anak.

So lets start now..;)
Happy parenting!

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail