Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Orangtua kerap mengabaikan kondisi psikis anak karena melihat dari tampilan luar anak yang baik-baik saja. Secara fisik mungkin anak tidak sakit namun adanya perubahan pada perilaku anak seperti murung, pesimis bahkan sampai depresi mengharuskan orangtua untuk menelaah lebih lanjut. Apakah orangtua adalah penyebabnya? Ya, bisa saja.

Menurut tokoh psikologi Erikson, pengaruh terpenting dari lingkungan keluarga terhadap perkembangan anak berasal dari suasana di dalam rumah, oleh karena itu berikut adalah cara yang dapat diterapkan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang positif:

Menunjukkan rasa cinta, kasih sayang dan perhatian

Dalam kehidupan sehari-hari, anak akan belajar bagaimana cara memperlakukan, menyayangi, mencintai dan perhatian pada orang lain dari bagaimana orangtua melakukan hal tersebut padanya. Saat anak merasa berharga dan dicintai, mereka akan menjadi lebih dekat dengan orangtua. Kedekatan inilah yang akan membuat anak memiliki nilai-nilai dan pandangan yang sama dengan orangtua. Sehingga, saat di luar rumah anak akan menunjukkan perilaku positif kepada orang lain maupun orangtuanya sendiri.

Mendengarkan segala keluh kesah anak

Ketika sedang bercerita, sebagai orang dewasa kita selalu ingin dimengerti dan didengarkan. Sama halnya dengan anak yang ingin orangtuanya mendengarkan cerita maupun keluh kesahnya. Selain dapat mempererat hubungan, selalu berusaha untuk mendengarkan cerita anak dapat membuat anak yakin jika orangtuanya selalu ada untuknya. Orangtua pun juga harus terbuka dengan anak dengan menceritakan tentang kegiatan positif yang dialami pada hari itu. Jika kegiatan sharing satu sama lain dilakukan maka anak akan merasa dirinya dianggap dan dihargai. Anak juga akan merasa memiliki “mentor” yang dapat memberikannya petunjuk jika ia membutuhkan arahan.

Memberikan kesempatan pada anak untuk terlibat dalam hal positif

Anak membutuhkan kesempatan dimana ia dapat melakukan secara langsung akan hal-hal positif yang bermanfaat untuk dirinya seperti menolong orang lain dalam kebaikan dan melakukan aktivitas yang melibatkan interaksi dengan orang lain contohnya mengajari teman sekolah/sepupu saat mereka kesulitan pada pelajaran tertentu, membantu orangtua dalam tugas rumah tangga atau mengucapkan “terima kasih” saat dibantu oleh orang lain. Hal ini penting bagi anak untuk menunjukkan apresiasi dan kasih sayang terhadap orang-orang yang berkontribusi terhadap kehidupan mereka. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang terbiasa untuk terlibat dalam hal positif lebih cenderung membantu, murah hati, penyayang, pemaaf dan lebih bahagia di masa depan.

Memberikan pandangan positif pada kegagalan

Menjadi orangtua bijak yang selalu mengambil hikmah dari setiap peristiwa negatif akan membuat anak belajar untuk melihat sisi positif dari berbagai situasi yang ia alami. Dengan menjadi teladan tentang pentingnya memiliki pandangan positif dalam hidup, perlahan-lahan anak akan tumbuh menjadi pribadi yang optimis, tidak cepat murung dan mampu mengambil nilai positif dari peristiwa negatif yang dialami yang akan ia bawa hingga di masa depannya. Kelak, anak tidak akan mudah menyerah dalam menggapai tujuan hidupnya.

Jauhkan anak dari masalah orangtua

Setiap orangtua memiliki permasalahannya sendiri. Jika memang terjadi masalah yang membuat orangtua stres seperti masalah keuangan atau masalah dalam hubungan sebagai suami istri hendaklah berdiskusi dan menyelesaikan masalah berdua, bukan dengan melakukan kekerasan dan ribut di depan anak. Hal tersebut harus dihindari demi mencegah timbulnya perasaan terpukul dan trauma yang berkepanjangan pada anak.

Jika anak dihadapkan pada masalah orangtua saat ia belum mampu memahami apa yang sedang terjadi, ditambah jika ada perilaku kekerasan yang dilakukan orangtua maka ia akan memandang dirinya rendah. Oleh karena itu hindarilah melibatkan anak dalam permasalahan orangtua yang cukup berat sampai anak sudah mampu berpikir dengan pikiran yang terbuka di usia yang tepat nanti. Tunjukkanlah bahwa semua baik-baik saja agar ia tidak merasa insecure.

Menjadi role model yang konsisten

Bagaimana mungkin anak mau mengurangi penggunaan gadget jika orangtuanya hanya menyuruhnya saja tanpa melakukan hal yang sama? Bagaimana anak mau memiliki perilaku positif tetapi orangtua tidak konsisten dalam melakukan kebaikan? Tentu anak akan menilai adanya inkonsistensi pada perilaku orangtua. Hal semacam ini lah yang membuat anak enggan untuk menuruti orangtua. So, be consistent karena anak belajar segala sesuatu dengan memperhatikan perilaku orangtua dan orang dewasa yang mereka hormati.

 

Penulis: Amelia Ajrina, S.Psi

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail