Anak 9 bulan ke atas: Yuk Ajak Anak Merangkak dan Makan Bersama!

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Pada tahap perkembangan alat sensori, perkembangan sensori sistem dimulai dari usia 2 bulan hingga 1 tahun. Momen ini adalah situasi yang paling krusial untuk memberikan stimulasi sensori dibanding usia selanjutnya. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya bahwa perkembangan sistem sensori dibagi menjadi 3 bagian berdasarkan cara stimulasinya yaitu usia 0-4 bulan, 4-6 bulan dan 6-12 bulan. Pada anak usia 6 bulan keatas terdapat 3 perkembangan yang paling terlihat. Pertama adalah perkembangan kemampuan lokomotor/kemampuan anak berpindah tempat yang ditunjang dari perkembangan alat sensori proprioseptif, vestibular dan taktil. Kedua adalah peningkatan pola makan yang ditunjang dari perkembangan alat sensori somatosensory, taktil, oral, dan olfaktori. Ketiga adalah perkembangan bicara yang ditunjang dari perkembangan alat sensori proprioseptif- vestibular sebagai dasar untuk perkembangan otot mata yaitu visual dan tentu saja perkembangan kemampuan auditori/memahami suara dan alat bicara itu sendiri yaitu oral. Dengan situasi perkembangan tersebut, maka stimulasi dan cara bermain yang perlu distimulasi orangtua adalah:

1.Merangkak

Menurut ahli perkembangan sensori, fase merangkak tidak hanya mempengaruhi perkembangan lokomotor, namun lebih besar lagi juga sebagai tahap perkembangan motorik kasar. Merangkak membutuhkan kematangan otot-otot punggung dan otot-otot tubuh bagian bawah (pinggul-pantat-paha) yang dimulai dari kemampuan anak menopang tubuhnya saat duduk dan merayap. Merangkak ditunjang dengan kematangan bagian tubuh lain yang biasa terlihat yaitu gerakan dari kemampuan seluruh bagian lengan (dari bahu sampai telapak tangan), kaki (lutut hingga jari-jari kaki) dan tentu saja koordinasi dari seluruh bagian tubuh tersebut. Posisi dasar merangkak yaitu posisi anak bertumpu pada kedua lengan dan kedua lutut dan posisi jari-jari kaki juga ikut bertumpu. Biasanya juga posisi punggung agak menekuk sedikit disesuaikan dengan otot perut anak. Gerakan merangkak yang benar yaitu Lengan kiri dan lutut kanan digerakkan untuk satu gerakan maju ke depan yang kemudian lengan kanan dan lutut kiri untuk gerakan maju berikutnya. Merangkak sangat penting dalam perkembangan motorik kasar dan seharusnya setiap anak melakukannya. Fase merangkak umumnya dimulai dari usia 9 bulan hingga 12 bulan dan latihan merangkak paling baik diberikan selama 3 bulan, maksudnya jika sorang anak terlihat sudah merangkak di usia 9 bulan namun pada usia 10 bulan dia justru mulai belajar berdiri dengan menopang tubuhnya di furniture rumah maka “tetap” menstimulasi merangkak hingga usianya menjelang 12 bulan dengan harapan semakin banyak latihan merangkak semakin baik untuk proses selanjutnya yaitu untuk berdiri, berjalan, berlari dan melompat. Mengapa merangkak penting? Berikut djelaskan beberapa manfaat dari fase merangkak:

  1. Memperkuat dan mematangkan sistem sensori
  2. Memperkuat otot-otot tubuh yang dapat memperkuat fisik anak
  3. Memberikan  anak kesempatan belajar keseimbangan tubuh. Saat anak mulai merangkak dia perlu memperkirakan gerakan tubuhnya saat melawan gravitasi. Dengan latihan yang diberikan anak akan mencoba menjaga tubuhnya saat ada perubahan di posisi kepala, ketika dihadapkan rintangan dan mendapat gerakan tiba-tiba dari depan tubuhnya. Sistem keseimbangan ini tentu saja mematangkan alat sensori  vestibular.
  4. Melatih koordinasi  dari pergerakan, penglihatan dan pedengaran disaat bersamaan. Anak yang aktif merangkak selain mengaktifkan motoriknya dia juga akan belajar mengatur diri (koordinas) saat bergerak dan saat ia tertarik atau ada orang lain yang mengajaknya bermain. Ketika anak belajar merangkak dilantai dia perlu menggunakan penglihatan dan pendengaran untuk mengidentifikasi tujuan yang diinginkannya.
  5. Memperkuat koordinasi tangan ,kaki dan mata atau biasanya disebut koordinasi visual motor. Saat tangan dan kaki sedang melakukan gerakan atau tugasnya, maka mata dibutuhkan untuk mengarahkan perhatian ke depan ataupun sekitarnya (kiri dan kanan).
  6. Mempertajam sensori taktil dan melatih keterampilan motorik halus. Saat posisi merangkak, para anak bertumpu pada lengannya, sehingga mengaktifkan telapak tangan hingga jari-jarinya. Saat anak merangkak dilantai, mereka dapat memegang tekstur yang dilewatinya, mungkin juga mendapat kesempatan untuk mengambil ataupun memegang benda-benda yang ditemuinya.
  7. Melatih kemampuan visual, biasanya anak saat merangkak akan belajar eye level/ pola kesiapan mempertahankan kontak mata. Kemudian mulai memperhatikan benda-benda yang jauh dari tubuhnya sehingga akan melatih penglihatan binokular (penglihatan jarak jauh) dan juga belajar mengatur spasial/jarak tubuh dengan sekitarnya. Jika ia merangkak mendekati benda-benda tertentu apakah ia perlu melewatinya atau mengambil jalan lain untuk memutarinya. Tentu saja lama kelamaan anak akan terlatih untuk mengatur jalur mana yang lebih efektif untuk ke tujuan yang diinginkan.

2.Makan sendiri

Setelah melewati fase memperkenalkan makanan selain asi, maka saat usia 9 bulan anak sebaiknya medapat kesempatan untuk bisa memegang makanannya sendiri. Beberapa makanan finger food sudah bisa diperkenalkan atau ajak anak memegang makanan asli dari yang dimakannnya. Maksudnya jika anak diberi makanan nasi, ayam dan wortel, maka mulailah mengenali anak dengan bentuk asli makanan tersebut dibanding dicampurnya menjadi bubur. Masing-masing makanan tersebut dibuat bisa dipegang anak sehigga ukurannya harus disesuaikan dengan telapak tangan anak. Pengenalan sejak dini antara bentuk makanan, rasa makanan dan memegang makanan akan membuat jalur pengenalan makanan menjadi lebih mudah. Anak-anak yang terbiasa memegang dan melihat bentuk makanannya akan mempertajam sensori taktil dan somatosensory (taktil-proprioseptif). Selain  itu mengenali rasa makanan dengan bentuk asli makanan itu juga membuat anak membuat memori yang baik antara makanan dan rasanya, yang selanjutnya akan memperkuat sistem sensori antara taktil, oral dan olfaktori. Makan sendiri atau menyuapi diri sendiri adalah prestasi penting pada periode ini yang berhubungan dengan kemandirian anak. Menyuapi diri sendiri merupakan pekerjaan yang kompleks yang meliputi intergrasi berbagai input sensori terutama pengintegrasian dari proprioseptif, vestibular dan taktil. Selain itu pengintegrasian somatosensory dari mulut, rahang dan lidah untuk mengunyah dan menelan makanan, terlibat juga kecap dan pembauan. Maka ajak anak makan bersama dengan anggota keluarga lainnya dan sediakan tempat khusus untuknya sebagai bagian memperkenalkan dirinya juga sebagai anggota keluarga

3.Ajak ngobrol

Banyak orangtua fokus mengejar bicara anak pada usia 12 bulan walaupun sebenarnya kemampuan prabicara sudah dimulai dari usia 6 bulan keatas dengan babbling. Pada usia 9 bulan, anak mulai mengembangkan bentuk babbling pada kata yang utuh, biasanya beberapa anak mulai bisa menyebutkan 4-5 kata yang disukainya sambil menunjuk. Pada usia ini komunikasi non verbal akan semakin aktif digunakan, para anak akan sibuk menunjuk, memberi gerakan geture tubuh atau ekpresi wajah saat ia mengatakan sesuatu.  Kata yang diucapkan bisa dengan pola kata utuh atau sukukata saja. Kata-kata yang diucapkan anak adalah hal yang disukainya yang dapat berupa benda, hewan, makanan ataupun orang.  Perlu diingat, bahwa ada 2 teknik khusus untuk mengajak anak bicara. Pertama, teknik bicara orangtua diharapkan tidak terlalu banyak kata (kebanyakan bicara) atau sedikit bicara (tidak bicara). Para orangtua perlu paham bahwa bicara membutuhkan 2 kepala, “yes it’s need two to talk”. Butuh satu orang yang mengomentari/berbicara perlahan dan perlu menunggu oranglain untuk meresponnya. Kedua tentu saja yang tidak dapat dipungkiri adalah teknik kontak mata dan eye level anak. Orangtua harus bersiap melakukan kontak mata dan mempertahankan kontak mata saat bicara. karena sejatinya ketika kita melakukan kontak mata dengan oranglain berarti kita siap menjalin interaksi dan melakukan komunukasi. Jadi singkirkan dulu semua gadget dan bangunlan kontak mata dan komunikasi efektif dengan anak

4.Perkembangan emosi

Perkembangan emosi anak yang terbesar pada usia 9-12 bulan menurut Greenspan adalah komunIkasi non verbal dan komunikasi kompleks atau bicara itu sendiri. Kemampuan komunikasi menjadi perantara seorang anak melatih emosinya. Emosi yang umum terjadi pada usia ini yaitu amarah, takut, ingin tahu, gembira, sedih dan kasih sayang. Biasanya respon adaptasi atau merasa takut dengan orang asing juga mendominasi saat usia ini, maka anak-anak perlu ditenangkan oleh orangtuanya saat ia berada ditempat baru ataupun bertemu orang baru.  

Jika saat ini ayah bunda memiliki anak usia 9 bulan, maka selamat bersenang-senang dengan bermain Bersama anak. Ajak anak merangkak bersama dengan Ayah Bunda atau saudaranya dan jangan lupa mengobrol tentang situasi harian saat bermain dengan anak.  Sediakan waktu khusus ngobrol dengan anak setidaknya 20 menit persesi dan dilakukan sekitar 5-8 kali sehari, karena latihan dan pengulangan aktivitas yang bermakna akan mempertajam kemampuan lainnya. Dan jangan lupa ajak anak untuk makan Bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya baik saat makan pagi, makan siang dan makan malam! Selamat berproses Ayah Bunda hebat, happy parenting!

Penulis: Siti Maulany, S.Psi

Picture: <a href=’https://www.freepik.com/photos/background’>Background photo created by freepic.diller – www.freepik.com</a>

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail