Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Kita semua pernah mengalami masa-masa sulit yang hampir membuat kita putus asa. Dalam hubungan keluarga misalnya, seringkali kita sebagai orangtua atau anak mengatakan:

“Anak saya tuh tidak pandai di sekolah, jadi tidak bisa apa-apa”

“Dia tidak pernah mau mendengarkan. Biarkan saja!”

“Kamu seharusnya tidak menangis tadi!”

Tahukah bahwa cara orangtua melihat kehidupan pengalaman yang ditemui setiap hari akan mempengaruhi cara anak dan diri sendiri dalam memandang hidup ini secara umum? Masih banyak dari orangtua yang langsung mempercayai apa yang  baru saja dilihat dan rasakan tanpa berpikir bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang dapat dipelajari dan diubah.  Contoh, anak yang menangis karena hari pertamanya sekolah langsung disebut dengan anak pemalu dan tidak pintar. Ucapan seperti itu kerap kali terjadi pada orangtua yang ditujukan kepada anaknya. Padahal kita belum benar-benar mengetahui apa yang terjadi pada diri anak.

Dilansir dari buku The Danish Way of Parenting, dalam memaknai suatu peristiwa negatif sebagian besar orang Denmark memiliki cara pandang positif dan menunjukkan dengan cara yang jelas bahwa ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Mereka menyaring informasi negatif yang tidak perlu serta menghilangkan kata-kata, kejadian negatif dan menerjemankan situasi kurang jelas ke dalam bentuk yang positif. Intinya, mereka tidak melihat segala sesuatu sebagai hitam dan putih tetapi menyadari ada beberapa tingkat warna di antaranya.  Sehubungan dengan hal tersebut artikel Harvard Business review, Dean M. Becker, pendiri Adaptic Learning System menyatakan jika tingkat ketangguhan seseorang akan menentukan siapa yang sukses dan siapa yang gagal, lebih dari pendidikan, lebih dari pengalaman dan lebih dari latihan. Dari hal ini maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan untuk memaknai ulang situasi negatif adalah ciri utama untuk menjadi tangguh. Jadi pemaknaan ulang terhadap suatu peristiwa tidak hanya mengubah otak secara kimiawi tapi juga membantu kita dalam menginterpretasikan kesakitan, ketakutan, kecemasan dan sebagainya yang mana akan menjadi bawaan seseorang hingga ia dewasa dan seterusnya.

Hanya perlu latihan dan keyakinan diri untuk melihat hidup lebih positif dan bahagia. Menilai anak sebagai sesuatu yang negatif seperti “Dia tidak suka membaca” atau “Dia payah dalam hal itu”  membuat gambaran dan perilaku itu akan melekat pada diri anak. Padahal jika orangtua mau melihat dengan lebih dekat lagi, mungkin saja mereka sedang lelah, lapar atau kecewa terhadap sesuatu. Semakin orangtua bisa memisahkan perilaku yang ditampilkan anak dengan kemungkinan yang akan terjadi maka semakin orangtua bisa mengenal anak dan membantu anak bagaimana ia melihat dirinya sendiri. Hal ini dapat memastikan bahwa anak baik-baik saja dan tidak akan menjadi sosok yang negatif. Menyebutkan seseorang dengan sebutan tertentu (labelling) dapat menjadi kenyataan bila dilakukan terus menerus karena banyak dari label atau sebutan yang mengikuti anak saat ia dewasa. Bayangkan jika dari kecil, anak sering disebut dengan si bodoh, si nakal, si egois dah sebutan negatif lainnya. Label itu akan melekat dan membentuk dirinya menjadi seperti itu. Oleh karena itu daripada mengatakan “Kamu tidak bisa apa-apa dan pemalas” cobalah melihatnya sebagai sesuatu eksternal yang dapat diubah seperti “Mungkin ia terpengaruh oleh rasa malas, jika dilawan pasti akan lebih rajin dan bisa melakukan hal itu”. Dengan memperhatikan dan membicarakan aspek positif daripada perilaku yang tidak menyenangkan, orangtua juga membantu anak untuk fokus pada sisi baik dari suatu peristiwa dan mengabaikan sisi negatifnya.

Penulis: Amelia Ajrina, S.Psi

Picture : <a href=”https://www.freepik.com/free-photos-vectors/people”>People photo created by yanalya – www.freepik.com</a>

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail