Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Pertanyaan diatas banyak ditanyakan oleh orangtua. Hampir semua orangtua mencari jawaban dari pertanyaan tersebut. Ada banyak buku yang laris manis dengan mengangkat tema tersebut. Namun sadarkah kita bahwa dengan ijin Sang Penguasa hanya orangtua seorang anak yang tau dengan pasti jawabannya.

Para pakar pendidikan dan psikolog anak menemukan satu kesamaan jawaban dari cara mencerdaskan anak. Menurut mereka, stimulasi motorik, kognisi, komunikasi-interaksi, serta sosial-emotional bukan satu-satunya aspek penentu kecerdasan anak. Cara paling cepat dan sederhana dalam menyerdaskan anak adalah dengan membantu mereka sehat secara emosi.

Anak yang kebutuhan emosinya terpenuhi dengan cukup maka akan dapat menampilkan potensi kecerdasannya dengan maksimal. Apa ciri-ciri anak yang cukup terpenuhi kebutuhan emosinya?

  • Anak tampil ceria dan bahagia
  • Anak senang bereksplorasi dan mencoba hal-hal baru
  • Anak tampil penuh percaya diri
  • Anak senang berbagi cerita dengan orangtuanya
  • Anak sering berbagi keberhasilan dan kegagalannya kepada orangtua
  • Memiliki kepercayaan diri saat berada di lingkungan baru
  • Senang berteman dengan teman yang baru
  • Dapat berbagi dengan teman sebaya
  • Dapat mengikuti aturan sesuai dengan usianya

Lalu, bagaimana cara memenuhi kebutuhan emosi anak?

  1. Pastikan kebutuhan emosi orangtua terpenuhi dengan baik
  2. Biasakan diri merefleksikan apa yang terjadi di sekitarnya
  3. Biasakan diri untuk memverbalisasikan perasaan yang ditampilkan anak
  4. Bantu anak mengenali emosinya
  5. Siapkan waktu untuk orangtua dan anak melakukan relaksasi
  6. Berikan kesempatan pada anak untuk merasakan apa yang sedang ia rasakan.
  7. Berikan kesempatan pada anak untuk menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapinya
  8. Latih terus kepekaan emosional orangtua dalam mengartikan perilaku-perilaku yang ditampilkan anak.

Dengan kebutuhan emosi yang terpenuhi maka efek dari stimulasi kognitif, motorik, dan sosial akan lebih terlihat. Memiliki anak yang cerdas pun bukan lagi impian.

Happy Parenting, Smart Parent..

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail