Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Ketika bayi memasuki usia 6 bulan, mereka sudah mulai banyak menyadari diri sendiri dan terlibat dengan lingkungan sekitarnya. Ketertarikan mereka akan orang lain adalaha awal bentuk interaksi, dan yang paling utama adalah ibu. Bayi yang mendapat asi eksklusif dengan cara menyusui langsung akan lebih banyak menjalin interaksi yang bermakna dengan ibu dan orang lain. Biasanya hal ini beriringan dengan banyaknya kesempatan bayi pada usia ini untuk bertemu dengan orang lain. Hal tersebut juga membuka kesempatan untuk bayi mengenali orang-orang yang ada disekitarnya juga seperti kakak, adik, ayah, pengasuh, nenek dan orang-orang yang terlibat selama pengasuhannya. Maka apa sajakah perkembangan sensori yang terjadi pada usia anak 6-9 bulan yang perlu diperhatikan orangtua? Berikut penjelasan dan cara stimulasinya

1. Menurut perkembangan alat sensori, pada anak usia 6 bulan fungsi sensori bekerja dengan lebih kompleks dan saling berhubungan. Semua alat sensori yaitu proprioseptif (alat sensori yang berhubungan dengan kerja otot dan persendian), vestibular (alat sensori yang berhubungan dengan gaya gravitasi dan keseimbangan tubuh), taktil (alat sensori kulit yaitu keseluruhan kulit dari kulit kepala, kulit wajah, leher hingga bagian tubuh atas yaitu punggung, dada, tangan termasuk bahu, bagian tubuh bawah yaitu paha hingga telapak kaki, termasuk bagian dalam telinga dan dalam mulut juga memberi informasi tentang kulit), visual (alat penglihatan), auditori (alat pendengaran), gustatory/oral (alat yang berhubungan dengan mulut dan lidah termasuk rahang dan berhubungan untuk fungsi makan dan bicara) dan olfaktori (alat penghirup atau biasa dikenal pembau yaitu hidung). Selain kesemua alat saling berhubungan, alat-alat sensori tersebut akan saling memberi informasi untuk pedoman anak mengenal lingkungan. Maka seiring dengan bertambahnya kemampuan bayi untuk mempelajari lingkungan, bayi perlu mendapat “kesempatan” untuk mengintegrasikan berbagai input sensori yang lebih kompleks. Karena sensori merupakan perkembangan yang memiliki hubungan dengan skill/kemampuan, maka anak perlu mendapatkan proses pengulangan dan kesempatan sebagai dasar belajar anak terhadap lingkungan. Perkembangan paling banyak terutama yang berkaitan dengan perkembangan skema tubuh (perkembangan proprioseptif –vesibular) dan persepsi ruang (berhubungan dengan visual dan auditory).

2. Pada periode usia ini tercipta respon–respon adaptif yang merupakan integrasi lanjutan dan kompleks dari input proprioseptif, taktil, vestibular dan visual, dengan terjadinya perkembangan lokomotor (yaitu gerakan berpindah tempat) terutama untuk gerak perubahan dari tengkurap ke duduk dan merangkak. Dalam fase ini bayi sudah bisa kita ajak bermain, maka dudukan bayi saat dia mandi, didepan kaca, dan letakkan beberapa mainan dihadapannya yang menarik perhatiannya. Usahakan saat bermain selalu mengutamakan posisi berhadapan dan membiarkan bayi untuk menopang tubuhnya sendiri. Ajak juga sekecil memanjat bantal-bantal dan guling sebagai sarana melatih gerak kaki saat merangkak ataupun melewai terowongan yang dibuat dari kain atau karpet kecil.

3. Pada fase ini juga telah berkembang kemampuan somatosensory yang lebih detail, diperhalus dan akurat di perkembangan keterampilan tangan si bayi yang merupakan dasar perkembangan praksis (kemampuan untuk menyusun, merencanakan dan mengatur urutan gerak motor yang bertujuan). Perkembangan somatosensory adalah perkembangan sensori yang berkaitan dengan alat sensori taktil dan proprioseptif bayi pada bagian tangan. Maka para bayi perlu latihan untuk mengambil benda-benda yang kecil dan kemampuan membedakan dengan akurat ukuran aneka benda sebagai pengembangan untuk memegang pinset/jepit dimasa selanjutnya. Saat ini, para bayi juga latihan memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lain, hal ini sebagai perkembangan  lebih lanjut pada kemampuan melintas garis tengah tubuh. Apa saja yang perlu dipegang pada usia ini? Semua tekstur baik dari kain sampai benda-benda lain (sebaiknya diperkenalkan benda yang masih bisa digenggam anak dan berukuran sedang), namun tetap awasi anak ketika bermain keterampilan tangan karena fase anak masih pada fase oral atau kerap memasukkan benda ke mulut, maka disarankan sebaiknya mengenal tekstur melalui makananannya.

4. Pada masa ini anak juga diperkenankan untuk bisa berpartisipasi saat makan.  Pada usia 6 bulan, anak-anak sebaiknya mendapat pengenalan perubahan tekstur makan dari yang sebelumnya hanya asi hingga ke makanan. Saran terbaik untuk pemberian testur makanan sebaiknya dilihat dari kemampuan anak. Awal mulai makan mungkin bisa dikenali dengan bubur halus, lalu bertingkat hingga usia 9 bulan anak sudah mulai bisa makan bubur kasar. Melalui pendekatan baby led weaning, beberapa bayi mulai dikenali tektur asli makanan tanpa dihaluskan yang sangat baik sebagai sarana mengenal bentuk asli makanan yang mungkin bisa dimulai dari usia diatas 6 bulan. Latihan pemberian makan ini bukan hanya untuk mengembangkan kemampuan mulutnya saja, namun untuk mengembangkan kemampuan taktil dan keterampilan tangan yang didapat dengan mengajak anak memegang makanannya.

5. Kemampuan visual dan auditory adalah hal yang paling mudah dideteksi pada usia ini, karena bayi tertarik dengan apa yang dilihatnya termasuk didalamnya orang, warna, benda dan sebagainya. Fungsi visual yang paling menonjol adalah anak-anak tertarik dengan wajah manusia dan mau mencoba menatap wajah orang lain, ini adalah fase awal anak melakukan kontak mata sebagai bentuk munculnya interaksi antar manusia.  Biasanya pada usia ini anak sudah mampu mengenal serta membedakan orang terdekat dan orang asing. Ia akan merasa tidak nyaman dengan orang asing. Mereka juga sudah tertarik dengan suara-suara dan mengenal perbedaan suara ibu dan suara orang-orang yang teribat selama pengasuhan. Pada usia ini para bayi suka sekali dengan irama, nyanyian, ucapan semangat serta ucapan yang lembut. Kita tidak perlu menjadi penyanyi terkenal untuk bisa menyanyi bagi si kecil. Kelembutan suara kita akan menenangkan si kecil dan membangun ikatan yang luar biasa antara orangtua dan anak. Selain suara orangtua, stimulasi juga bias dilakukan dengan menggunakan benda-benda yang dapat mengeluarkan suara seperti suara kunci, batu, kacang-kacangan yang kita letakkan di dalam botol ataupun suara bunyi benda lain disekitar mereka seperti suara kaleng, bantal dan piring. Lebih diutamakan untuk mengenal suara benda-benda asli pada benda sekitar dibanding suara dari hasil mainan tertentu.

6. Pada masa ini pengolahan input auditori memegang peranan yang bermakna dalam mengembangakan kesadaran bayi dengan lingkungan sosialnya. Pengintegrasian input auditori dengan taktil dan proprioseptif di daerah mulut adalah awal pengembangan vokalisasi sebagai dasar komunikasi. Proses ini mulai nampak saat bayi usia 6 bulan dimana mereka mulai mencoba melakukan vokalisasi seperti pengulangan  bunyi kata konsonan-vokal (mamama-bababa )yaitu babbling. Bantuan dari orang sekitar yang mengasuhnya, seperti orangtua, keluarga maupun pengasuh yang mengaitkan arti dengan kata-kata yang diucapkan si bayi akan mendorong si bayi untuk mengulanginya dan memahami pengertian dari “bahasa bayi” itu. Sehingga si bayi akan menggunakan kata-kata itu secara bermakna untuk “berkomunikasi”. Jadi ketika bayi berkata bababa sambil melihat bola sebaiknya kita katakan “bola” dan kita memaknai setiap perkataannya menjadi kata utuh tanpa dicadel-cadelkan.

7. Permainan yang paling seru dimainkan saat usia ini adalah main ciluk ba, hal ini akan menimbulkan kesenangan pada bayi. Bermain ciluk ba sangat merangsang perkembangan proprioseptif, visual, auditory dan taktil. Beragam cara bermain ciluk ba saat ini sudah bisa diberikan, seperti bermain ciluk ba sambil sembunyikan mainan, ciluk ba dengan menutup wajah kita dengan kain, ataupun ciluk ba dengan menutup wajah dengan tangan atau bermain ciluk ba dengan pola seperti main  petak umpet.

8. Saat usia sudah masuk 8 bulan ke atas, bayi akan suka meniru gerak tubuh kita yang lucu dan jal  ini sebagai sarana mereka untuk mengenal kemampuan non verbal. Misal kita sedang membacakan buku dan ada gambar kucing, kita letakkan tangan kita didagu sambil mengeluarkan suara kucing, atau ketika ada gambar ikan kita membuka dan menutup tangan kita sepeti meniru mulut mirip seekor ikan atau ada gambar burung kita kepakkan lengan ke atas dan ke bawah di udara. Ajari juga beberapa gerakan sederhana ketika bicara seperti gerakkan minum, makan, menunjuk pada sesuatu yang tinggi, atau benda yang diinginkan bayi, dadah ketika mau pergi dan lainnya.

9. Bagaimana dengan perkembangan emosi bayi pada usia ini? Menurut perkembangan emosi dari Greenspan, anak ada pada usia 6-9 bulan berada pada tahap keakraban dan keintiman. Pada tahap ini bayi mulai terlibat dalam suatu relasi yang hangat, akrab menyenangkan dan penuh cinta dari pengasuh yaitu orangtua terutama ibu dan baginya ibu adalah hal terpenting dalam dunianya. Kemampuan yang dimiliki anak yaitu menunjukkan respon terhadap tawaran ibu dengan senyum, mengeryit, vokalisasi, meraih dan tingkah laku bertujuan lainnya. Para bayi juga menunjukkan respon terhadap ibu dengan rasa senang, rasa ingin tahu dan minat asertif. Bayi bisa tau bahwa benda yang ada jadi hilang dari hadapannya, menunjukkan rasa tidak suka bila didiamkan selama 10 detik, mulai memprotes dan mulai marah saat frustasi dan mampu pulih dari keadaan tidak menyenangkan 15 menit dengan bantuan. Selain itu Greenspan juga mengatakan fase perkembangan emosi lainnya pada usia ini adalah komunikasi  dua arah, dan komunikasi itu ternyata bagian dari perkembangan emosi ya!. Komunikasi yang terjadi tidak bersifat verbal tapi non-verbal, dimana bayi mulai merespon terhadap gesture ibu atau orang terdekat. Gesture yang muncul yaitu gesture yang bertujuan contohnya bayi meraih ke ke arah ibu seolah ingin digendong bila ibu merentangkan tangan. Memulai interaksi dengan ibu dengan cara memegang rambut/hidung atau mengulurkan tangan ingin digendong. Bayi juga menunjukkan emosi akrab yaitu dengan balas memeluk, bergembira dan bergairah bermain bersama, tersenyum saat mengambil sesuatu dari kita, muncul juga rasa ingin tau, protes dan marah jika tidak suka seperti mendorong makanannya hingga terjatuh atau menjerit ketika mainannya tidak diberikan, takut dengan membalik/menjauhkan tubuhnya, serta takut dan menangis ketika orang yang tidak dikenal mendekati tiba-tibaserta pulih dari rasa tidak senang dalam 10 menit dengan terlibat dalam interaksi social.

Itulah sebagian dari cara stimulasi anak-anak usia 6-9 bulan. Pahamilah bahwa mereka sudah masuk fase bermain sederhana dan kita sebagai orangtua harus mau ikut serta bermain dengan mereka. Kehadiran kita untuk memenuhi kebutuhan bermainnya memang sangat menuntut kuantitas dan kualitas diri kita karena semakin banyak kesempatan anak mendapat stimulasi semakin baik latihan yang dia dapatkan. Dan tentu saja semakin berkualitas sitimulasi yang diberikan maka semakin tepat sasaran stimulasinya. Kapan, dimana, berapa lama dan bagaimanapun stimulasinya akan lebih baik jika kita sebagai orangtua yang memberikannya. Selamat memberikan stimulasi terbaik untuk anak-anak. Selamat bermain!

Penulis: Siti Maulany, S.Psi

Picture: <a href=’https://www.freepik.com/photos/baby’>Baby photo created by freepik – www.freepik.com</a>

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail