Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Banyak orang tua yang menaruh harapan tinggi pada anak-anaknya. Merupakan hal yang wajar, jika sebagai orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang berprestasi di sekolah, memiliki wawasan yang luas, berkepribadian baik, dan memiliki teman bergaul yang banyak. Apakah salah jika orang tua berharap demikian? Tentu saja tidak. Namun, alangkah lebih baik jika sebagai orang tua, kita mampu membedakan mana yang merupakan ego pribadi, dan mana yang merupakan kebutuhan anak. Jangan sampai kita menjadi orang tua yang memperalat anak untuk memuaskan ego pribadi, misalnya dengan membanding-bandingkan kemampuan anak kita dengan kemampuan anak orang lain, atau ‘memaksa’ anak agar menjadi pribadi yang unggul, dengan harapan bisa dibanggakan di hadapan teman-teman kita. Jangan pernah!

Hal yang perlu ditanamkan oleh orang tua dan menjadi sesuatu yang paling esensial bagi anak adalah, keyakinan bahwa kehadiran mereka (anak-anak kita), mampu memberikan kebahagiaan dan kegembiraan bagi orang-orang di sekitarnya, terlebih orang tuanya. Dengan kehadirannya di dunia, anak adalah hadiah yang berharga dari yang Maha Kuasa. Mereka tidak harus menjadi sesuatu yang luar biasa, tidak harus selalu melakukan hal yang istimewa, melainkan dengan menjadi diri sendiri dan menjadi versi terbaik dari diri mereka, itu sudah mampu membawa kebahagiaan di hati orang tuanya.

Kebahagiaan anak lebih penting daripada kepuasan diri kita sebagai orang tua. Ada kalanya kita sebagai orang tua sangat ingin menuntut anak bisa membaca di usia dini, bisa menulis dengan lancar, dan berperilaku dengan benar. Coba tanyakan kepada anak-anak kita, “Apakah mereka bahagia?”.

Hal ini bukan berarti orang tua tidak diperbolehkan untuk menuntut dan mengharapkan sesuatu dari anak. Tentu orang tua perlu mengutarakan harapan tertentu pada anak, perlu menetapkan peraturan, melatih kedisiplinan, empati, tanggung jawab, dan sebagainya. Namun yang terpenting, tentunya anak perlu merasakan bahwa kehadirannya sudah cukup memunculkan kebahagiaan.

Semua hal baik yang kita tanamkan dalam diri anak, niatkan untuk kebaikan anak, bukan untuk narsisme ibu atau ayah. Seringkali, kita mengajukan permintaan kepada anak yang bertujuan untuk harga diri kita, kepuasan diri kita, atau untuk sekedar pamer kepada tetangga. Jangan sampai pikiran anak-anak kita dipenuhi oleh impian-impian orang tuanya yang belum tentu dapat mereka penuhi.

Bila mereka hidup di dalam tekanan, mereka tidak akan pernah merasakan kebahagiaan dan akan merasa tidak dihargai. Jika mereka merasakan hal tersebut, potensi mereka tidak dapat berkembang dengan baik. Oleh karena itu, tugas kita sebagai orang tua adalah mendampingi anak berproses dan berkembang dengan baik, dan memastikan bahwa anak-anak kita bahagia dengan kehidupannya, karena hal itu adalah hadiah terbaik yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita.

 

Penulis : Listiyani Wahyuningsih, S.Psi

 

 

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail