Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Pada zaman saat ini, semua orang bebas mengekspresikan diri dan pendapatnya. Namun tidak semua orang mampu memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, termasuk orangtua kepada anak. Saat menyampaikan informasi kepada anak misalnya, orangtua terkadang melarang anak melakukan sesuatu tanpa memberikan alasan yang jelas. Anak dibatasi hal-hal tertentu tanpa adanya penjelasan yang dapat dipahami oleh anak. Selain itu, anak pun semakin sulit untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan dan malah menunjukkannya dengan perilaku negatif seperti agresi. Hasilnya, mulai lah muncul kesalahpahaman dan rasa kecewa yang ada pada diri anak maupun orangtua. Oleh karena itu, komunikasi yang asertif sangat penting ditanamkan di lingkungan keluarga. Komunikasi asertif atau komunikasi secara tegas adalah cara untuk menyampaikan perasaan, pikiran, pendapat dan kepercayaan dengan cara yang sopan, jelas, jujur dan tetap menghargai orang lain. Meskipun tidak datang secara alamiah komunikasi asertif adalah keterampilan yang harus diajarkan kepada anak-anak karena hal tersebut akan membantu mereka dapat membela diri sendiri dan memiliki pertahanan diri jika dihadapkan dengan situasi tertentu. Harapannya, anak dapat bersikap tegas dan memiliki pendirian saat berada di lingkungannya nanti. Lalu bagaimanakah cara menanamkan kemampuan komunikasi asertif pada anak?

1. Jelaskan tentang batasan

Menjelaskan kepada anak tentang  semua batas-batas pribadi seperti batas fisik, batas perilaku, batas emosional, aturan/norma yang berlaku baik di sekolah maupun di tempat umum sangat perlu dilakukan sedini mungkin. Batasan ini akan mengajarkan anak untuk menghargai diri sendiri dan orang lain. Anak yang diajari batas-batas diri dan ketegasan yang tepat akan tumbuh menjadi pribadi yang berani mengungkapkan hal-hal yang mereka perlukan, apa yang mereka suka dan tidak suka dengan cara yang tepat tanpa menyinggung pihak lain

2. Hargai pendapat anak

Penting untuk selalu menghargai perasaan, pendapat atau sekadar curahan hati anak. Tapi ini tidak berarti selalu memberinya apapun yang anak inginkan ya. Maksud dari hal ini adalah orangtua mampu mengakui perasaannya dan membiarkannya tahu bahwa orangtua mendengarkan dan mengerti. Ketika orangtua mendengarkan secara penuh anak merasa dihargai dan dianggap penting sehingga anak tidak merasa sungkan untuk mengungkapkan pandangan yang ia miliki.  Ketika orangtua menghormati pernyataan anak, orangtua juga harus memperkuat pernyataan itu dengan memberikan pujian positif. Katakan padanya bahwa senang mereka mengatakan itu, bahkan jika mereka tidak setuju dengan orangtua atau orang lain.

3. Dukung anak untuk mengungkapkan perasaannya

Anak-anak perlu merasa aman dan nyaman menjadi diri mereka sendiri dalam setiap situasi. Jenis kepercayaan dan ketegasan ini dimulai pada usia muda. Ketika anak-anak mulai mengekspresikan emosi mereka, terutama ketika masih balita, orangtua tidak boleh menahan mereka atau menghukum mereka karena ekspresi negatif. Misalnya mencubit anak karena menangis sepanjang hari, memarahi anak karena tidak setuju dengan pendapat orangtua dan lain sebagainya. Menurut sebuah penelitian, kegagalan anak untuk bisa mengungkapkan pendapatnya di keluarga akan berdampak negatif hingga anak dewasa. Oleh karena itu sebelum memutuskan untuk menghukum anak, orangtua sebaiknya mencari tahu terlebih dahulu apa penyebab dari emosi yang mereka tampilkan. Ajaklah mereka berbicara dari hati ke hati. Jika suasananya sudah kondusif, anak akan lebih mau bercerita dan setelah itu katakan padanya bahwa kita sebagai orangtua merasa bangga padanya karena berani mengungkapkan sudut pandangnya. Setiap kali melihat anak secara positif menegaskan dirinya sendiri, pastikan untuk memperkuatnya dengan pujian yang tidak berlebihan. 

4. Beri kesempatan pada anak untuk mengambil keputusan

Memberikan anak kesempatan untuk mengambil keputusan merupakan salah satu cara untuk belajar komunikasi asertif. Dari hal-hal yang sederhana seperti membiarkan anak untuk menentukan pakaian apa yang ingin ia kenakan, buku apa yang ingin dibaca dan aktivitas yang ingin dilakukan. Nanti ketika anak sudah beranjak remaja, beri kesempatan pada anak untuk memilih sesuatu yang berkaitan dengan masa depannya, sesuai dengan minat dan bakatnya seperti memilih sekolah atau jurusan. Disini peran orangtua adalah memberikan masukan dan membuat berbagai pertimbangan yang dapat didiskusikan bersama anak hingga ia membuat keputusan. Dengan membuat pilihan sendiri anak akan belajar untuk menjadi seseorang yang mandiri, dapat bertanggung jawab serta belajar dari pilihan yang ia buat sendiri. 

Semoga bermanfaat. Happy parenting 🙂

Penulis: Amelia Ajrina, S.Psi

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail