Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

image4

Keras Kepala: Masalah Perilaku atau Tahapan Perkembangan?

Ketika anak memasuki usia tiga tahun beberapa orangtua mulai mengeluhkan sikap keras kepala yang ditampilkan anak. Banyak orangtua mulai menerapkan sistem hadiah dan hukuman untuk meminimalisir sikap ini. Ada yang berhasil namun banyak juga yang gagal. Sebenarnya apa itu keras kepala pada anak dan bagaimana menghadapinya?

Keras kepala adalah kata sifat yang sering kali muncul sebagai penjelasan dari sikap tidak menuruti arahan orangtua. Seringkali kita lupa atau terlalu emosi untuk melihat alasan lain dibalik sikap anak tersebut. Beberapa ahli perkembangan menjelaskan sikap anak yang tidak menuruti arahan orangtua secara lebih positif. Mereka melihat hal tersebut sebagai bentuk inisiatif anak.

Diusia 3-6 tahun, anak-anak mengalami perkembangan psikososial yang dilebih komplek dari tahap yang sebelumnya. Erikson menyebut tahapan ini sebagai tahapan “Initiative Vs Guilt”. Anak belajar untuk menampilkan apa yang ia rasa benar atau sesuai untuk dilakukan. Ketika anak berhasil melalui tahapan ini dengan optimal, ia diharapkan dapat memahami tujuan sebuah prilaku dengan lebih baik. Sehingga, anak tidak perlu hukuman untuk memahami bahwa suatu prilaku tidak perlu untuk dilakukan dan juga tidak memerlukan hadiah untuk memahami bahwa suatu prilaku perlu ia lakukan.

Tahapan perkembangan ini biasa terjadi direntang usia 3 hingga 6 tahun. Pada beberapa anak terjadi lebih cepat namun pada sebagian yang lain terjadi lebih lambat. Menurut Erikson hal tersebut sangat wajar karena perkembangan psikososial sangat dipengaruhi oleh stimulasi, nilai yang diterapkan orangtua, dan kebebasan explorasi anak.

Eksplorasi lingkungan dalam pengawasan dan pengarahan orangtua sangat diperlukan anak pada usia ini. Mereka akan sangat sering melakukan hal-hal yang mungkin tidak sesuai dengan kehendak orangtua atau aturan / nilai yang berlaku. Anak-anak melakukan hal tersebut secara spontan karena mereka sedang mencoba mengamati seberapa besar pengaruh prilakunya terhadap kondisi lingkungan sekitar terutama perilaku atau mimik wajah orangtua. Jadi jangan heran kalau anak keras kepala ditegur dengan keras lalu beberapa saat kemudian ia mengulangi lagi perilaku yang tidak diharapkan. Dari sudut pandangnya, perilakunya berhasil merubah intonasi suara dan perilaku orangtua. Itu artinya inisiatifnya untuk mengkontrol lingkungan dengan prilakunya berhasil, maka ia pun mengulanginya lagi.

Ada berbagai cara mendampingi anak yang sedang menjalani tahapan perkembangan ini. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan:

  1. Konsisten menghadapi perilaku anak dengan senyuman.

  2. Memberikan kegiatan rutin yang produktive bagi anak contohnya mengajaknya berenang bersama setiap hari sabtu/minggu, rutin membacakan buku cerita setiap mau tidur malam, atau rutin mengikutsertakan anak di playgroup dekat rumah.

  3. Memberikan kesempatan bagi anak untuk melakukan kesalahan. Jika anak melakukan sebuah kesalahan, berikan kesempatan yang kurang lebih sama dan contohkan apa yang seharusnya ia lakukan.

  4. Konsisten memberikan contoh-contoh prilaku yang diterima di keluarga. Jika orangtua ingin anak bisa makan rapih di meja makan maka biasakan seluruh anggota keluarga makan di meja makan bersama anak

  5. Kenalkan perilaku-perilaku yang diharapkan muncul dari anak melalui permainan pura-pura atau melalui buku cerita yang rutin dibacakan pada anak. Pengenalan konsep Tuhan dan norma agama/sosial seringkali dapat membantu anak memahami apa yang baik dan tidak baik untuk dilakukan.

  6. Sediakan mainan-mainan yang bisa menggugah imajinasi dan kreasinya seperti alat gambar atau lego. Permainan ini akan memudahkan anak mengeksplorasi idea dan kreativitasnya

  7. Biasakan melakukan “Me Time” atau memberikan waktu istirahat bagi diri sendiri dengan cara sejak menjauh dari anak untuk melakukan hal-hal yang disukai. Hal ini diperlukan untuk tetap menjaga kondisi emosi ibu/ayah/keduanya dalam posisi stabil dan siap menghadapi segala bentuk inisiatif anak dengan senyuman.

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail