Membangkitkan Perasaan Bahagia Anak dengan Pernyataan Positif

Kita semua setuju bahwa perasaan bahagia muncul dari pikiran yang positif. Sebagai orang tua, selain menciptakan pikiran yang positif bagi diri sendiri, kita juga memiliki tanggung jawab membantu anak menciptakan pikiran yang positif. Anak yang aktif memiliki ribuan pemikiran setiap harinya. Pikiran anak muncul dari hal-hal yang mereka dengar, rasakan dan lihat di lingkungan sekitarnya. Maka saat berbicara dengan anak kita perlu memperhatikan setiap kata – kata yang diucapkan, karena Kata – kata yang disampaikan akan memicu tanggapan tertentu dari anak.

Lalu bagaimana kita mengarahkan pikiran seorang anak dengan kekuatan kata – kata kita? Ada suatu istilah yang cukup populer yaitu Afirmasi. Afirmasi adalah pernyataan yang disampaikan secara berulang kepada diri sendiri sebagai bentuk penegasan untuk mengarahkan pikiran kita kepada suatu hal yang baik. Memberikan afirmasi yang positif kepada anak dapat membantu mereka menilai diri mereka sendiri secara positif. Apalagi jika hal tersebut dikatakan langsung oleh orang terdekat mereka yaitu orangtua.

Tidak jarang seorang anak juga memiliki kekhawatiran dan rasa takut dari hasil pemikiran mereka terhadap suatu hal. Hal itu kita sebut dengan pikiran negatif. “aku tidak bisa”, “temanku membenci aku” atau “aku benci suatu hal”. Kita dapat membantu anak dengan mengubah pikiran negatif itu  menjadi pikiran yang positif dan menciptakan kondisi yang diinginkan anak. Nancy Fischer (seorang pendidik dan pendiri “Kekuatan Pikiran untuk Anak – Anak”) mengatakan afirmasi mengajarkan untuk menyatakan apa yang diinginkan untuk terjadi, bukan yang tidak diinginkan. Kuncinya adalah kekuatan kata – kata dari afirmasi yang orangtua berikan. Saat mendengar afirmasi dari orang tuanya atau orang terdekatnya anak akan merasa kita memahami dunia mereka. Tidak hanya cukup kita saja yang memberikan afirmasi kepada mereka, namun anak juga perlu dilatih untuk mengatakan pernyataan positifnya.

Saat mereka kesulitan mengerjakan PR dan mengeluh tidak mampu mengerjakannya, sebagai orangtua kita perlu memberi pengertian secara perlahan bahwa akan lebih baik jika anak mengubah sikapnya. Diskusikan dengan anak, kondisi apa yang ingin dia capai dengan pertanyaan positif “Apakah kamu ingin bisa menyelesaikan PR mu?” Jika anak mengatakan ya, berarti kita telah setuju dengan sikap positif yang perlu diciptakan. Buatlah pernyataan positif yang sederhana, contoh “aku bisa menyelesaikan PR ku” atau “aku semangat mengerjakannya”. Latih anak mengulang kata – kata positif tersebut secara alami dan tanpa paksaan, sehingga saat nanti anak menemui situasi yang kurang baik, anak mampu melakukan afirmasi positif sebagai cara yang dapat membantunya keluar dari masalahnya. Kebiasaan melakukan afirmasi juga membantu menciptakan harapan, kepercayaan diri dan perasaan bahagia dalam diri anak.

Penulis : Yuliana Putri Ayuningtyas, S.Psi