Membangun Keluarga Sehat tanpa Kekerasan

AyahBunda, sejak pandemi melanda negeri kita, angka kekerasan dalam keluarga mengalami peningkatan. Terbatasnya aktivitas membuat kita cepat dihinggapi oleh rasa bosan, rasa lelah, dan rasa muak. Ketidakmampuan dalam meregulasi emosi menjadikan kekerasan sebagai media dalam menyalurkan perasaan-perasaan tersebut. Tidak jarang kekerasan dalam keluarga dilakukan sebagai pelampiasan atas ketidaksukaan kita dengan rekan kerja atau atasan selama WFH. Anak, Istri, Suami, orangtua, dan saudara dapat menjadi korban dari emosi-emosi negatif yang menumpuk dan tertahan selama ini. Oleh karena itu diperlukan cara yang tepat untuk mengurangi kekerasan dalam keluarga dan membentuk keluarga yang sehat selama di rumah saja.  Berikut beberapa tips yang dapat AyahBunda lakukan untuk membangun keluarga sehat tanpa kekerasan :

  • Ciptakan Waktu Bersama Keluarga selama WFH

AyahBunda, ditengah kesibukan WFH yang tidak mengenal waktu, tetapkan waktu rutin untuk keluarga berkumpul bersama. Misalnya setiap jam 5 pagi ada kegiatan sholat shubuh berjamaah, setiap jam 7 pagi waktunya sarapan bersama, setiap jam 7 malam waktunya untuk makan malam bersama, dan lain-lain. Jika sudah ditentukan waktu rutin untuk berkumpul, maka AyahBunda perlu untuk mengkosongkan jadwal kerja di jam tersebut. Panggil semua anggota keluarga dan mulailah kegiatan tersebut bersama-sama. Dengan demikian AyahBunda dan anggota keluarga yang lain menyadari bahwa sesibuk apapun masih ada waktu untuk bersama keluarga.

  • Bangun Komunikasi Efektif dengan Keluarga

AyahBunda, salah satu sumber utama masalah keluarga adalah kesalahan dalam berkomunikasi atau miscom. Cara penyampaian, intonasi suara, dan emosi yang menyertai membuat pesan yang ingin disampaikan kepada keluarga menjadi buram. Akhirnya membuat AyahBunda dan keluarga mengalami perbedaan sudut pandang dan pendapat. Merasa diri paling benar malah dapat memperburuk suasana dalam keluarga. Oleh karena itu penting untuk membangun komunikasi efektif dengan cara tenangkan diri sebelum memulai komunikasi, dinginkan kepala agar tidak ada emosi yang menyertai, lalu sampaikan pesan AyahBunda kepada keluarga, kemudian minta keluarga untuk menanggapi pesan tersebut.

  • Libatkan Anggota Keluarga dalam Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan dalam keluarga biasanya lebih sering dilakukan secara sepihak, misalnya Ayah atau Bunda sebagai figure otoritas di rumah. Alhasil anggota keluarga hanya dapat menerima keputusan tersebut dan tidak dapat menyampaikan pendapatnya. Pada saat mereka tidak diperkenankan menyampaikan pendapat, maka emosi negatif akan mudah menguasai. Oleh karena itu AyahBunda dapat melibatkan anggota keluarga dalam memberi pendapat terkait hal yang berdampak pada keluarga. Misalnya dalam memutuskan ingin makan malam apa, AyahBunda dapat meminta pendapat keluarga satu persatu dan kemudian putuskan secara bersama-sama. Jika malam ini akan makan malam berdasarkan suara terbanyak, maka besok atau lain waktu dapat makan malam berdasarkan suara terdikit.

  • Biasakan Menggunakan Kata Maaf, Tolong, dan Terima Kasih

AyahBunda, mungkin ketiga kata ini terdengar klise di mana semua orang dapat mengucapkannya. Ya benar, namun AyahBunda perlu menyadari bahwa tidak semua orang dapat mengucapkan ketiga kata tersebut secara tulus. Terkadang AyahBunda sebagai orang tua, merasa enggan untuk mengucapkan maaf saat melakukan kesalahan kepada anak, karena merasa “Saya kan orang tuanya.” Atau misalnya AyahBunda langsung menyuruh anak untuk mengambil minum di kulkas tanpa ada kata “Tolong” di dalamnya. Akhirnya saat anak tidak menuruti permintaan AyahBunda, AyahBunda langsung memarahinya. Anak pun membawa kebiasaan tersebut dipertemanannya sehingga lama kelamaan teman-teman menjauhinya. Kata maaf, tolong, dan terima kasih perlu AyahBunda biasakan dalam keluarga, karena ketiga kata tersebut merupakan bentuk dari kita menghargai orang lain. Jika AyahBunda ingin dihargai oleh keluarga, maka AyahBunda perlu menghargai mereka terlebih dahulu.

Selamat mencoba tips-tips tersebut AyahBunda dan selamat berproses bersama keluarga 😊

Penulis: Niken Woro Indriastuti, M.Psi., Psikolog

picture: People photo created by tirachardz – www.freepik.com