Membangun Perilaku Inisiatif pada Anak Remaja

Inisiatif adalah suatu sikap yang diharapkan dapat berkembang seiring anak tumbuh dewasa. Ketika anak memasuki usia remaja, harapan untuk anak dapat inisiatif adalah hal wajar sebagai bentuk persiapan anak dalam menghadapi lingkungan masyarakat yang lebih besar. Bertindak Inisiatif akan berguna bagi anak agar dapat responsif, termotivasi dan berani bertindak terhadap situasi apapun yang mungkin akan dihadapi di kemudian hari. Seorang Psikolog perkembangan, Marilyn Price-Mitchell, PhD. dalam tulisannya yang diterbitkan di laman Roots of Action mengatakan bahwa perilkau inisiatif dapat membantu inidividu untuk terdorong dan maju ke tujuan yang ingin dicapai, mengarahkan perhatian ke arah tujuan yang menantang dan membantu diri untuk mengatasi rintangan. Oleh karena itu penting bagi orang tua untuk membantu dan mewadahi anak dalam mengembangkan sikap inisiatif. Berikut beberapa tips yang dapat orang tua lakukan untuk membangun perilaku inisiatif pada anak, khususnya remaja:

  • Menjadi Role Model untuk anak

Bicara tentang perilaku yang diharapkan tampil pada diri anak, maka salah satu poin utamanya adalah pada orang tua. Anak adalah peniru yang ulung dan orang tua adalah role model utama bagi anak. Jika ingin anak tampil inisiatif dengan lingkungan sekitar, seperti berharap anak peduli dan inisiatif jika kondisi rumah berantakan, maka mulailah dengan mencontohkannya terlebih dahulu di depan anak. Tidak hanya sekali, namun lakukan hal ini secara konsisten dan penuh komitmen. Berilah contoh di depan anak secara konsisten mengenai perilaku yang orang tua harapkan. Dengan memperlihatkan contoh dari kepedulian dan inisiatif terhadap lingkungan sekitar terus-menerus, anak akan mempelajari dan termotivasi untuk ikut berkontribusi hal yang sama dengan yang sudah orang tua contohkan. Jangan lupa untuk menambahkan waktu diskusi kepada anak terkait perilaku yang orang tua sudah contohkan dan anak sudah lihat. Ajak anak diskusi sejauh mana pemahaman ia dalam mencontoh perilaku orang tua, bagaimana pendapatnya tentang keefektifan dari perilaku yang orang tua contohkan dalam menyelesaikan masalah / merespon situasi sosial di sekitar, serta ajak anak untuk berpikir dan mencari ide-ide/perilaku lain yang dapat dilakukan sebagai alternatif solusi dari apa yang terjadi di lingkungan sekitar.

  • Memberi anak kesempatan menentukan pilihan

Dalam merespon situasi yang terjadi sekitar lingkungan kita, ada berbagai solusi yang dapat dilakukan untuk menghadapi dan mengatasinya. Oleh karena itu, untuk memunculkan perilaku inisiatif berikan kesempatan pada anak untuk menentukan tindakan efektif yang akan dilakukannya. Orang tua tetap dapat memberi arahan dan mengawasi anak agar tindakan/perilaku yang dilakukannya sesuai dengan nilai-nilai yang dipegang oleh keluarga yaitu dengan memberi pilihan. Beri kesempatan pada anak untuk terlibat dalam pengambilan keputusan (problem solving) dengan memberikannya beberapa pilihan tindakan/perilaku yang dapat dilakukan. Kemudian ajak anak untuk memilih tindakan/perilaku yang paling efektif dan efisien dalam menghadapi situasi yang terjadi. Ajak anak diskusi mengenai alasan dibalik tindakan/perilaku yang ia pilih, agar orang tua dapat mengetahui dna mengkoreksi apakah cara berpikir anak sudah tepat atau belum. Dengan membiasakan hal ini dalam keseharian, anak akan semakin terlatih untuk berpikir kritis dan mampu mengambil inisiatifnya sendiri tanpa harus menunggu arahan dan perintah dari orang tua dalam menghadapi situasi sosial dengan efektif dan efisien.

  • Memberi kesempatan anak untuk mencoba tugas yang kompleks

Menghadapi rutinitas dengan tingkat kesulitan yang sama secara terus-menerus akan membuat anak semakin terbiasa dan hilang rasa tertantang di dalam dirinya. Dahulu tugas tersebut mungkin sulit baginya, namun karena saat ini sudah menjadi rutinitas dan terbiasa maka akan terasa lebih mudah dan anak sudah tahu cara mengatasinya sehingga motivasi untuk inisiatif perlahan akan sulit dilakukan karena sudah menjadi rutinitas. Oleh karena ini, orang tua dapat memberikan kesempatan pada anak untuk melibatkannya di situasi / tugas yang lebih kompleks, memberi tanggung jawab atau peran yang baru. Sebagai contoh, apabila orang tua ingin memunculkan perilkau inisiatif agar anak ikut terlibat dalam pekerjaan rumah, maka orang tua dapat memberi tanggung jawab penuh kepada anak dari linkungan utamanya di rumah yaitu kamar.  Berikan kesempatan kepada anak untuk sepenuhnya mengatur, merapihkan, membersihkan, dan menjaga serta merawat kamarnya secara penuh tanpa bantuan orang lain. Berharap anak akan langsung memahami dan mampu bertanggung jawab sepenuhnya tentu akan sulit, karena anak masih belajar memahami situasi baru yang dialaminya. Namun dengan diberi kepercayaan oleh orang tua untuk bertanggung jawab secara penuh terhadap isi kamarnya, anak perlahan akan berinisiatif menyelesaikan masalahn sendiri dengan ide-ide solusinya.

  • Beri pengharagaan kepada anak atas usahanya

Tidak ada proses belajar yang langsung sempurna. Demikian juga untuk menumbuhkan inisiatif pada anak yang mebutuhkan proses belajar, tentu akan menjadi tantangan baru bagi anak dan resiko adanya gagal, kesalahan, kurang tepat, dsb. Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar. Namun dengan pengalamannya, anak akan belajar untuk memperbaiki apa yang belum maksimal, apa yang belum tepat, apa yang masih kurang, apa yang masih harus ditingkatkan. Anak akan termotivasi untuk mencari solusi, ide-ide, dan gagasan yang dapat ia lakukan dalam menghadapi situasi sekitar. Bila anak belum sepenuhnya inisiatif sesuai dengan kriteria harapan orang tua, beri anak penghargaan atas progress yang sudah dilakukan. Sampaikan penghargaan secara verbal ataupun non-verbal seperti mengucapkan terima kasih, mengelus kepala anak atau memeluknya. Lalu sampaikan kepada anak masukan dan koreksi terhadap tindakan/perilaku yang anak sudah lakukan. Orang tua juga dapat menyampaikan bentuk perilaku inisiatif yang diharapkan muncul dalam diri anak. Sampaikan bentuk perilaku inisiatif yang diharapkan beserta alasan dan manfaatnya, hindari nada/kesan menyuruh agar anak dapat memahami esensi perilaku insiatif dan termotivasi untuk melakukannya.  

Penulis: Fakhrani Isti Irsalina, S.Psi

picture: Music photo created by gpointstudio – www.freepik.com