Mengapa Terjadi Fenomena Self-Injury pada Remaja?

Nonsuicidal Self-Injury (NSSI) adalah perilaku melukai diri sendiri yang disengaja tanpa disertai niat untuk bunuh diri (Zakaria & Theresa, 2020). Nonsuicidal self-injury (NSSI) didefinisikan sebagai perilaku melukai diri sendiri yang disengaja seperti menyayat, membakar, menusuk yang dapat menyebabkan perdarahan, memar, dan rasa sakit yang ditujukan untuk menyebabkan kerusakan tubuh yang ringan tanpa disertai niat untuk bunuh diri (American Psychiatric Association, 2013). Perilaku ini mulai marak di kalangan remaja sebagai bentuk pelarian dari masalah yang sedang di hadapi. Salah satu anak remaja kelas 6 SD yang pernah penulis temui, telah melakukan NSSI dengan cara menyayat telapak tangannya dengan benda tajam seperti pisau atau silet. Perilaku NSSI tersebut dilakukannya untuk memindahkan rasa stress yang dialaminya kepada rasa sakit yang ia buat di tangannya, sehingga fokusnya bukan lagi pada stress di kepalanya tetapi rasa sakit di tangannya.

Data senada juga pernah diungkapkan seorang dokter spesialis kesehatan jiwa di RSUD dr Soetomo, Dr. dr. Yunias Setiawati SpKJ (K) yang menyampaikan bahwa dalam seminggu rata-rata sepuluh pasien remaja datang dalam kondisi sudah menggores tangan, mencakar, ataupun membenturkan diri ke tembok dimana para remaja tersebut rata-rata berusia 13-15 tahun (Ginanjar, 2019).

Mengapa fenomena ini dapat terjadi? Salah satu faktor yang mendorong terjadinya NSSI adalah karena faktor kemampuan regulasi emosi yang rendah. Saputri & Sugiariyanti (2016) di dalam penelitiannya mengatakan regulasi emosi adalah proses pengendalian emosi yang dilakukan secara sadar atau tidak sadar yang bertujuan agar ekspresi emosi yang ditunjukan sesuai dengan lingkungan disekitar. Dalam penelitian tersebut juga di sebutkan tiga aspek regulasi emosi menurut Gross (2007): (1) Mampu mengatur emosi positif maupun emosi negatif dengan baik. (2) Mampu menyadari emosi, mengendalikan emosi secara sadar dan otomatis. Dan (3) Mampu menguasai tekanan akibat dari masalah yang dihadapi. Ketika remaja tidak memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik, maka hal tersebut akan membuat remaja sulit mengatasi masalah yang dihadapinya.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor penyebab perilaku NSSI adalah ketidakmampuan seseorang dalam meregulasi emosi yang berujung pada pemilihan perilaku NSSI sebagai mekanisme coping (penyelesaian masalah) yang tidak adaptif  (Zakaria & Theresa, 2020). Selain itu perilaku NSSI juga dapat terjadi karena faktor lain seperti factor lingkungan yaitu pengaruh media yang buruk, dan faktor interpersonal berupa kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain yang buruk yang memicu seseorang melakukan NSSI. Oleh karena itu penting sekali untuk para remaja mendapatkan pengetahuan bagaimana meregulasi emosi yang baik serta membangun kemampuan interpersonal yang baik sehingga mereka bisa menyelesaikan masalah yang di hadapinya dengan cara yang adaptif.

Penulis: Rahma Aulia, S.Psi

Picture: <a href=’https://www.freepik.com/photos/background’>Background photo created by jcomp – www.freepik.com</a>