Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Sebagai orang tua, tentu merupakan sebuah kebanggaan jika melihat anak kita memiliki banyak teman dan mampu bersosialisasi dengan baik. Namun, bagaimana jadinya jika yang terdengar dari mulut anak kita adalah ‘Tidak ada orang yang mau berteman denganku!’. Ucapan ini biasa ditemukan pada anak berusia tujuh tahun atau delapan tahun yang memang sedang dalam masanya kritis terhadap diri sendiri.

Mungkin langkah pertama yang kita lakukan sebagai orang tua adalah menyangkalnya dan menghiburnya dengan mengatakan “Pasti ada orang yang menyukaimu. Si A pasti menyukaimu. Bagaimana dengan si B? Dia juga pasti menyukaimu.” Sayangnya, anak kita mungkin tidak percaya dan langsung merespon dengan menyatakan penyangkalan yang disertai bukti, misalnya “Tidak mungkin si B menyukaiku. Dia jahat sama aku”. Nah, kira-kira seperti itu. Atau mungkin juga kita sebagai orang tua hanya merasa tidak berdaya. Terlalu menyedihkan karena melihat anak sendiri mengalami hal tersebut, sekaligus merasa bahwa kita tidak mampu melakukan apa-apa untuk mencarikan teman bagi anak kita.

Melalui tulisan ini, penulis akan memaparkan hal-hal yang bisa dilakukan orang tua jika memiliki anak dengan masalah diatas.

  1. Terapkan Empati dan Dengarkan Cerita Anak

Coba minta anak kita bercerita, posisikan diri kita di posisi anak, agar bisa memahami dan turut merasakan masalah apa yang tengah ia hadapi. Terkadang, ketika ada pihak yang mau mendengarkan dan memahami masalahnya, itu sudah cukup menguatkan anak kita. Sesekali berikan respon atas ceritanya sebagai tanda bahwa kita memang memahami ceritanya. Orang tua juga bisa menawarkan pelukan dan sejenisnya kepada anak. Ketika anak merasa ditolak oleh teman-temannya, extra perhatian dari ayah dan ibunya bisa cukup menghibur dan membuatnya lebih kuat untuk menghadapi masalah.

 

  1. Jangan Merespon Berlebihan (overreact)

Memang terkadang sulit untuk bersikap ‘biasa saja’ ketika melihat anak kita sedih atas masalahnya. Namun yang perlu kita ingat adalah perasaan dan mood anak bisa berubah dengan cepat. Anak-anak bisa saja mengatakan bahwa dia membenci A, namun esok harinya dia dan si A bermain bersama kembali. Jadi ketika melihat anak kita menceritakan masalah tersebut, coba jaga ketenangan diri kita, jangan sampai dikontrol emosi. Menghadapi masalah dengan tenang bukan berarti tidak peduli, tapi mencoba untuk berpikir jernih agar tidak menyesal kemudian. Buang jauh-jauh pikiran mau ngedatengin dan marahin anaknya di sekolah, atau bahkan ngedatengin si orang tua anak yang tidak menyukai anak kita tersebut, karena bisa jadi ketika kita mengambil langkah ini, kedepannya anak kita tidak mau lagi bercerita tentang masalahnya kepada kita. Try to calm!

 

  1. Dapatkan Informasi Lebih Lanjut tentang Anak Kita

Jika masalah anak kita terus berulang (atau anak menunjukkan indikasi memiliki masalah), kita sebagai orang tua perlu mencari informasi lebih lanjut tentang masalahnya. Kita bisa menghubungi guru kelas anak kita di sekolah untuk mengetahui bagaimana relasi anak kita dengan teman-temannya. Kita sendiri juga bisa melakukan pengamatan ke sekolah atau ketika anak bermain dengan teman-temannya. Setelah informasi terkumpul, kita bisa menganalisa mengenai masalah anak, penyebabnya, dan bagaimana intervensinya.

 

  1. Asah Kemampuan Sosialisasi Anak

Setelah memahami lebih detail, kita bisa membimbing anak tentang bagaimana cara bersosialisasi dan berinteraksi yang baik dengan orang lain. Hal yang kita ajarkan disesuaikan dengan penyebab masalahnya, agar nantinya terlihat progress yang positif dari anak.

 

  1. Beri Kesempatan kepada Anak untuk Menjalin Persahabatan

Bagi orang tua yang bingung bagaimana cara membantu anak memulai persahabatan, mungkin cara berikut ini bisa dilakukan. Pada umumnya, anak-anak akan menjalin pertemanan atau persahabatan ketika mereka melakukan kegiatan bersama. Melibatkan anak kita ke dalam suatu aktivitas yang menyenangkan bisa menjadi salah satu solusi. Orang tua juga bisa mengundang teman-teman anaknya datang ke rumah, atau mengadakan playdate bersama anak-anak yang lain.

 

  1. Cari Bantuan tenaga professional

Terkadang orang tua merasa kesulitan dalam membantu anak menyelesaikan masalahnya. Jika anak merasa terancam di sekolah dan menerima tindak kekerasan dari teman-temannya, orang tua bisa meminta bantuan dari guru atau kepala sekolah. Jika terus berlanjut, orang tua bisa meminta bantuan tenaga professional (misal : psikolog anak atau social skill group), dimana anak bisa mendapatkan intervensi yang tepat dan menjalin hubungan pertemanan dengan orang lain dalam lingkungan yang aman dan nyaman untuknya.

Demikian hal-hal yang bisa dilakukan orang tua dalam membantu anak menyelesaikan masalah dalam pertemanannya.

Happy Parenting, Parents!

Penulis: Listiyani Wahyuningsih, S.Psi

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail