Mengembangkan Empati pada Anak

rsz_11rsz_1rsz_little-boys-outdoors-hugging.png

Empati adalah kemampuan seseorang untuk membayangkan bagaimana perasaan orang lain ketika berhadapan dengan situasi tertentu dan kemampuan untuk merespon perasaan orang lain dengan cara yang tepat. Empati termasuk salah satu kemampuan kompleks untuk dikembangkan, terlebih pada anak-anak. Meskipun demikian, orangtua bisa mulai melatih empati pada anak sejak mereka masih usia balita.

Keterampilan empati pada anak bisa terlihat dari beberapa hal, diantaranya adalah adanya pemahaman bahwa anak merupakan individu yang terpisah dari orang lain, pemahaman bahwa orang lain bisa memiliki pikiran dan perasaan yang berbeda dari apa yang dirasakan, adanya kemampuan untuk mengenali emosi yang dirasakan diri sendiri maupun orang lain, dan kemampuan untuk melihat hubungan antara situasi dengan emosi yang dirasakan. Kemampuan anak untuk menunjukkan empati berperan penting dalam perkembangan emosi dan sosialnya di kemudian hari. Anak yang mengalami kesulitan untuk berempati kepada orang lain rentan memiliki masalah dalam bidang akademik maupun pertemanan.

Pemahaman dan keterampilan menunjukkan empati merupakan hasil dari perkembangan sosioemosional di tahun-tahun pertama kehidupan. Tahapan perkembangan tersebut meliputi adanya hubungan yang secure dan hangat antara anak dan orang tua. Perasaan diterima dan dipahami yang dirasakan oleh anak akan membantunya belajar untuk menerima dan memahami orang lain seiring dengan pertambahan usianya. Pada usia 6 bulan, anak mulai mengamati lingkungan di sekitarnya dan menggunakan referensi sosial. Bayi akan mengamati bagaimana interaksi yang dilakukan oleh orang lain dan melihat respon yang ditampilkan. Oleh karena itu, orangtua perlu menyediakan suasana yang penuh kehangatan dan kenyamanan dalam rangka membantu bayi mengenal dunia di sekitarnya. Pada usia 18 hingga 24 bulan, bayi mulai mengembangkan Theory of Mind, yaitu kemampuan untuk menyadari bahwa pikiran, perasaan, dan perilaku yang ditunjukkan bisa saja berbeda dengan apa yang orang lain tunjukkan. Di usia ini juga, bayi mulai mengenali dirinya sendiri. Kemampuan ini merupakan dasar dari pemahaman bahwa anak adalah individu yang berbeda dan terpisah dari orang lain.

Dalam rangka mengembangkan empati pada anak, orangtua bisa memulai dengan menunjukkan empati dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kemampuan berbicara dan komunikasi anak belum berkembang, orangtua disarankan untuk menerjemahkan apa yang anak rasakan dan mengaitkannya dengan situasi yang sedang terjadi. Orangtua juga bisa melakukan percakapan dengan anak mengenai topik-topik yang sarat dengan emosi dan afeksi, dalam rangka meningkatkan pemahaman anak mengenai dasar empati. Saat anak menunjukkan emosi-emosi tertentu, orangtua disarankan untuk memvalidasi emosi yang dirasakan oleh anak. Orangtua disarankan untuk tidak terburu-buru membantu anak mengatasi emosi yang dirasakan, karena melalui emosi tersebut anak belajar untuk menghadapi dan menyelesaikan sendiri. Yang orangtua perlu lakukan adalah memahami dan menghargai emosi yang dirasakan anak. Metode seperti ini akan melatih anak untuk belajar menunjukkan empati kepada orang lain. Penggunaan media seperti buku bacaan atau aktivitas pretend play juga bisa orangtua manfaatkan untuk menanamkan empati pada anak.

Penulis: Listiyani Wahyuningsih, M.Psi., Psikolog

Picture: <a href=’https://www.freepik.com/photos/kids’>Kids photo created by freepik – www.freepik.com</a>