Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

peran-orangtua-dalam-membentuk-pribadi-anak-yang-baik

Pandangan dalam masyarakat Indonesia telah mematokkan bahwa karakteristik laki-laki dan perempuan itu sangat berbeda. Kedua jenis kelamin tersebut dilihat sebagai dua kutub yang berlawanan, kebanyakan laki-laki seharusnya berperilaku maskulin dan perempuan berperilaku feminim. Lalu bagaimana dalam konsep Androgyny?
Istilah Androgyny berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata Andro yang berarti laki-laki dan Gyny yang berarti perempuan. Individu androgyny adalah memiliki paduan karakteristik laki-laki dan perempuan, sehingga ia dapat berperilaku fleksibel dengan situasi di mana dia berada. Seseorang dapat bertingkah laku feminin atau ekspresif seperti lembut, sensitif, hangat dan penuh pengertian namun di saat lain ia dapat bertingkah laku maskulin seperti mandiri, tegas dan agresif.
Menurut para ahli, dalam diri laki-laki memang memiliki aspek yang disebut anima yakni feminin, sedangkan pada perempuan ada aspek yang disebut animus yaitu aspek maskulin. Adanya aspek animus dan anima ini memberi kemungkinan pada laki-laki dan perempuan untuk mengembangkan kedua aspek tersebut.
Pribadi tersebut bukan berarti bahwa adanya perubahan peran gender dalam diri seseorang, namun merupakan sikap yang dapat ditonjolkan pada situasi tertentu. Seperti ketika kakak (anak laki-laki) harus menjaga adiknya ketika ibu harus memasak di dapur, maka kakak akan menjaga adiknya dengan lemah lembut dan mengajaknya bermain. Sedangkan ketika anak perempuan dijahili temannya, maka ia akan melawan dan bersikap tegas agar tidak menjadi sasaran kejahilan temannya tersebut.
Mengembangkan pribadi Androgyny pada anak dirasa perlu sebagai bekal dalam bersosialisasi di masyarakat. Stimulasi yang tepat akan membuat anak menampilkan pribadi pada situasi yang sesuai.
So Happy Parenting Smart Parents!

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail