Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Setiap orang tua menginginkan anak yang sehat secara fisik maupun psikis. Tidak ada satu orang tua pun yang ingin memiliki anak berbeda dari anak-anak pada umumnya. Akan tetapi Tuhan menciptakan setiap manusia berbeda satu sama lain dan dengan keunikannya masing-masing. Begitu pula dalam Tuhan menitipkan anak kepada setiap orang tua yang tidak bisa disamakan dengan orang tua lain.

Ketidaksiapan orang tua terhadap titipan Tuhan, tidak memberikan nutrisi yang terbaik untuk anak, serta tidak menjaga kesehatan anak selama di kandungan, tentu memberikan efek samping yang akan terlihat saat berada di kandungan maupun saat anak lahir. Kondisi fisik yang tidak sempurna pada anak tentu dapat terdetiksi saat masih berada dalam kandungan, tetapi apakah kondisi psikis yang tidak sempurna juga dapat terdeteksi saat dikandungan? Tentu jawabannya adalah tidak. Oleh karena itu anak membutuhkan stimulasi dari orang tua hingga minimal usia anak 2 tahun. Stimulasi ini sangat penting dilakukan oleh orang tua untuk mendeteksi secara dini gangguan-gangguan fisik dan psikis yang dialami oleh anak. Dengan demikian maka orang tua dapat mencegah munculnya gangguan-gangguan lain yang ada dalam diri anak.

Seberapa penting peranan orang tua dalam mengoptimalkan perkembangan anak berkebutuhan khusus? Tentu sangatlah penting. Hal ini disampaikan oleh Sunardi dan Sunaryo (2007, dalam Rafikayah dan Jauhari 2018) yang menyatakan bahwa orang tua adalah lingkungan terdekat dengan anak, paling mengetahui kebutuhan khususnya, paling berpengaruh, dan paling bertanggung jawab dengan anak. Heward (2003) menambahkan bahwa efektivitas berbagai program penanganan pada anak, khususnya anak berkebutuhan khusus, akan sangat ditentukan oleh peran serta dan dukungan keluarga, sebab keluarga merupakan pihak yang mengenal dan memahami berbagai aspek dalam diri anak jauh lebih dalam dibandingkan orang lain. Dengan demikian maka peranan orang tua sangat menentukan keberhasilan dalam mengoptimalkan perkembangan anak dengan berkebutuhan khusus.

Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang memiliki kemampuan di bawah maupun di atas anak-anak pada umumnya, yang mana memiliki perbedaan dalam kondisi fisik, emosional, mental, sosial, ciri-ciri mental, kemampuan berkomunikasi, maupun kombinasi dari dua atau lebih dari hal tersebut. Adanya perbedaan ini membuat anak berkebutuhan khusus perlu mendapatkan pelayanan yang spesifik baik dalam akademis maupun non-akademis agar dapat mengoptimalkan perkembangan mereka.

Shochib (2010) mengatakan bahwa dalam sebuah keluarga orang tua berperan sebagai guru, penuntun, pengajar, dan sebagai pemimpin pekerjaan serta pemberi contoh. Lestari (2012) menambahkan bahwa peran orang tua tidak hanya sekedar mencukupi kebutuhan dasar anak dan melatihnya dengan keterampilan hidup yang mendasar, tetapi juga memberikan yang terbaik bagi kebutuhan material anak, memenuhi kebutuhan emosi dan psikologis anak, serta menyediakan kesempatan untuk menempuh pendidikan yang terbaik. Menurut Dewi dan Zarkasih (2017, dalam Karin 2018) orang tua memiliki peran yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak dalam semua aspek, seperti perkembangan fisik, intelektual, emosi, moral, kepribadian, dan spiritual. Dari aspek-aspek tersebut, ada kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh anak agar dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal, yakni kebutuhan akan kedekatan psikologis, kebutuhan fisik dan mental, serta kebutuhan akan rasa aman.

Adapun Langkah-langkah yang dapat diberikan terutama kepada orang tua dari anak berkebutuhan khusus, yakni:

  1. Terimalah kondisi anak apa adanya agar anak merasa dicintai dan tidak muncul permasalahan psikologis dalam diri orangtua
  2. Tidak berlarut-larut merasa terpuruk dengan kondisi anak, kenali keunggulan anak yang dapat dimaksimalkan serta mengenali dan melatih kekurangan anak agar menjadi lebih baik
  3. Tetap berpikir positif dalam setiap kondisi karena tentu akan ada hikmah disetiap kejadian.
  4. Turut aktif terlibat dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak dan dampingilah anak selalu.
  5. Berikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan anak dan tugas yang bisa anak lakukan agar timbul kemandirian dalam diri anak.
  6. Mengajak keluarga dan lingkungan untuk turut membantu orang tua dalam mengoptimalkan perkembangan anak.
  7. Khawatirlah secukupnya dan bebaskan anak dalam mengeksplorasi diri serta lingkungannya dengan tetap berada dalam pengawasan orang tua

Menjadi orang tua dari anak berkebutuhan khusus tidaklah mudah, mereka lebih rentan mengalami permasalahan psikologis seperti yang dikemukakan oleh Hoddap (Bornstein, 2002) yakni depresi, keputusasaan, dan kekhawatiran. Seperti kasus di mana masih banyak orang tua yang tidak menerima kenyataan bahwa anaknya berkebutuhan khusus, menyembunyikan anaknya di rumah, bahkan sampai tidak mengakui bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya menunjukkan bahwa orang tua belum dapat menyesuaikan dirinya. Menurut hasil penelitian dari Rahayuningsih dan Andriani (2011) orang tua yang sudah dapat menyesuaikan diri dengan kondisi anak memiliki tuntutan dan tekanan yang lebih rendah. Oleh karena itu, Ayah dan Bunda mulai sekarang terapkanlah langkah-langkah yang diberikan agar kesehatan mental Ayah Bunda serta Ananda menjadi lebih stabil dan Optimal.

Selamat berproses Ayah Bunda. Anda adalah orang tua hebat untuk anak-anak 😊

Penulis: Niken Woro Indriastuti, M.Psi., Psikolog

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail