Pentingnya Regulasi Emosi untuk Mencegah Self-Injury pada Remaja

Pada artikel sebelumnya telah disampaikan bagaimana latar belakang dan faktor-faktor penyebab seorang remaja melakukan self-injury, salah satunya adalah karena kemampuan regulasi emosi yang kurang baik. Lalu apa sebenarnya regulasi emosi? Regulasi emosi adalah proses pengendalian emosi yang dilakukan secara sadar atau tidak sadar yang bertujuan agar ekspresi emosi yang ditunjukan sesuai dengan lingkungan disekitar. Ada tiga aspek regulasi emosi menurut Gross (2007) : (1) Mampu mengatur emosi positif maupun emosi negatif dengan baik, (2) Mampu menyadari emosi, mengendalikan emosi secara sadar dan otomatis, dan (3) Mampu menguasai tekanan akibat dari masalah yang dihadapi (Saputri & Sugiariyanti, 2016).

Ketika seseorang menghadapi sebuah permasalahan tentu akan ada aspek emosi yang terlibat pada diri manusia sehingga kemampuan pengendalian emosi akan sangat berpengaruh pada bagaimana cara seseorang mengambil keputusan dan tindakan. Pengendalian emosi yang kurang baik akan berdampak pada pengambilan keputusan yang tidak efektif. Sebagai contoh ketika seorang wanita mengalami putus cinta dari pasangannya yang telah bertahun-tahun bersama, ia mungkin mengirim pesan teks kepada pasangannya dan mengatakan bahwa ia tidak bisa hidup tanda dirinya, dan lebih baik mengakhiri hidupnya. Hal tersebut merupakan contoh akibat dari regulasi emosi yang buruk sehingga cara menyelesaikan masalahnya pun tidak adaptif. Ketika swanita tersebut memiliki regulasi emosi yang baik, ia bisa memilih cara mengekspresikan emosinya dengan cara yang adaptif misalnya berolahraga, bercerita ke teman sambil menangis, atau yang lainnya. Lalu bagaimana cara membantu remaja untuk meningkatkan kemampuan regulasi emosi? Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan:

  • Understanding and Labelling Emotions

Memahami dan mengenali emosi dapat diwujudkan dengan mengidentifikasikan dan memberikan nama pada setiap emosi yang di rasakan merupakan hal yang sangat penting. Hal ini membantu seseorang untuk terhindar dari perasaan-perasaan yang tidak pasti dan ketika emosi yang dirasakan tersebut sudah diketahui, akan dapat membantu seseorang untuk mengatur emosinya.

  • Mindfulness

Mindfulness bisa di deskripsikan sebagai “living your life in the present instead of being stuck in the past or the future” (Tartakovsky, 2015). Seseorang seharusnya fokus menjalani kehidupannya hari ini, bukan terjebak pada masa lalunya yang mungkin saja menimbulkan kembali rasa kecewa atau marah dan bukan juga terjebak di kehidupan masa depan yang belum pasti dan mungkin membuatnya cemas.

  • Letting Go of Painful Emotions

Membiarkan emosi-emosi yang menyakiti untuk pergi mungkin menjadi kemampuan yang paling penting dalam regulasi emosi. Meskipun akan terkesan sulit dan membutuhkan waktu untuk melepaskan/merelakan, namun cara ini perlu dilatihkan ke diri agar remaja belajar untuk mengatur dan memfasilitasi emosi positifnya dibandingkan terkurung dalam emosi negatif yang terus-menerus dan justru dapat berdampak buruk pada aspek kehidupan lainnya.

  • Take Care of Your Body

Seperti kata pepatah, di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kesehatan tubuh akan berpengaruh pada kesehatan pikirannya. Merawat tubuh dengan menjaga pola hidup sehat, berolahraga, mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang merupakan cara-cara yang dapat dilakukan untuk membantu hormon-hormon pemicu bahagia seperti endorfin di dalam tubuh berproduksi, sehingga suasana hati menjadi gembira dan terhindar dari emosi negative

  • Increasing Positive Emotions

Fokuslah untuk memperbanyak emosi-emosi positif pada diri, tapi bukan berarti harus mengabaikan emosi-emosi negatif yang datang ke dalam diri. Terimalah emosi-emosi negatif yang mungkin masih tersisa, kemudian lihatlah emosi negatif tersebut dengan cara berpikir yang positif. Sebagai contoh ketika seorang anak mengetahui bahwa dirinya di tinggalkan oleh orangtuanya sehingga ia marah dan membenci orangtuanya. Setelah berpuluh-puluh tahun ketika ia bertemu kembali dengan orangtuanya, perasaan marah dan benci itu masih tersisa. Tidak apa-apa jika emosi itu masih ada, akan tetapi saat ini cobalah untuk melihatnya dengan mindset yang positif “karena hal itu saat ini aku menjadi diriku yang mandiri dan kuat”.

Semoga artikel ini bermanfaat. Semangat berproses bersama ananda, Ayah Bunda.

Penulis: Rahma Aulia, S.Psi