Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Pada umumnya, kebanyakan orang  tua yang memiliki anak autis sulit untuk menerima kenyataan jika anaknya dinyatakan penderita autis. Padahal dalam penanganan anak autis, peranan orang tua sangat diperlukan karena dengan peran aktif orang tua dapat memicu perkembangan yang baik untuk anak tersebut. Namun, banyak juga orang tua yang sangat menginginkan perubahan yang sangat cepat pada anaknya dengan banyak memberikan pelajaran-pelajaran yang membuat anak bosan dan kembali kedunia mereka. Karena setiap anak autis memiliki karakter yang berbeda pula dalam menerima materi-materi yang diberikan.

 

Dalam perannya, orang tua dianjurkan untuk bisa bekerja sama dengan pihak sekolah dimana anak tersebut bersekolah, baik di sekolah formal maupaun non formal. Karena dengan bekerja sama dengan pihak sekolah, orang  tua dapat menyamakan visi dan misi bagi perkembangan anak. Selain itu, salah satu cara yang dapat dilakukan orang tua adalah melakukan pendampingan yang insentif, yang berarti adanya komunikasi dengan orang tua dan orang yang ada disekitarnya. Dengan begitu, orang tua dapat memberikan berbagai pengalaman sebanyak mungkin dan pengarahan dengan mengikuti kemana dia pergi, memberi tau apa yang dia pegang dan apa yang dia lihat, menjelaskan kejadian yang terjadi dan makna yang terjadi.

 

Selain itu, diberika juga kesempatan kepada anak untuk melakukan suatu hal yang dapat mengajarkan dia untuk mandiri. Jangan setiap pekerjaan yang dilakukannya selalu dibantu, Karena jika selalu dibantu maka mereka akan merasa tidak mampu untuk berbuat sesuatu dan dapat mengakibatkan mereka kembali kedunianya sendiri. Lalu apa lagi yang harus dilakukan oleh orang tua untuk anaknya? ya, orang tua diajak untuk mengajarkan keterampilan pada anak demi kelangsungan hidupnya. Karena tidak selamanya anak akan berada bersama orang tua. Kelak mereka akan hidup bersosialisasi dengan lingkungannya.

 

Pola asuh yang benar untuk autis dangat berpengaruh besar bagi perkembangan anak. Menurut Baumrind, ada 4 macam pola asuh orang tua :

  1. Pola asuh demokratis

Pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, tindakan yang dilakukan berdasarkan pemikiran yang rasional. Disini orang tua juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih melakukan tindakan dan pendekatan kepada anak bersifat hangat.

  1. Pola asuh otoriter

Cenderung harus dituruti, memaksa, memerintah dan menghukumi, dan dibarengi dengan ancaman.  Orang tua seperti ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti  mengenai anaknya.

  1. Pola asuh permitif

Memberika pengawasan yang longgar, cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila dalam bahaya dan sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka.

  1. Pola asuh penelantar

Pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang minim. Mereka lebih mementingkan kepentingan mereka, seperti bekerja dan biayapun di hemat-hemat untuk anak mereka.

 

 

Dari sekian banyak pola asuh yang ada, sebaiknya orang tua mampu memilih pola asuh yang benar demi perkembangan anaknya. Seperti pola asuh yang demokratis, orangtua diajak untuk memprioritaskan anak autis namun tidak lepas mengajarkan mereka untuk mampu secara mandiri dan memberika pengasuhan yang bersifat penuh kasih sayang, sehingga anak akan merasa nyaman untuk melakukan suatu hal baik dan tetap nyaman saat melakukan suatu hal yang tidak pantas. Karena orang tua dapat memberikan penjelasan dengan baik tentang sikap yang tidak baik dilakukan oleh seorang anak.

 

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orangtua dalam memperlakukan anak autis dalam keluarga :

  1. Tidak melabel buruk anak dalam keluarga
  2. Membuat teguran secara lunak agar tidak mudah tersinggung yang membutnya tidak mood
  3. Jangan memaksa anak untuk melakukan sesuatu saat dia tidak mood.

 

Orang tua yang tadinya sulit menerima anak autis, malu memiliki anak autis dan kecewa mulailah dari sekarang untuk memberikan motivasi bagi anak-anak agar mereka dapat lebih maju dalam perkembangannya. Dan untuk penerapan peraturan yang telah dibuat dilakukan secara konsisten dan perlakukan anak dengan kasih sayang.

 

 

Penulis: Dicky age tresna

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail