Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Usia 3-5 tahun sering disebut sebagai usia dimana anak sedang “lincah-lincahnya”  seperti sering berlari kesana kemari, protes atau bermain dengan apa saja yang ada di sekelilingnya. Menurut Erikson, pada usia tersebut anak sedang berada di tahap Inisiative versus Guilt yang artinya anak mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya sehingga menimbulkan rasa ingin tahu terhadap segala hal yang dilihatnya. Anak akan mengambil banyak inisiatif dari rasa ingin tahu di kepalanya sehingga anak akan banyak mengeskplorasi dan mengembangkan imajinasinya. Larangan demi larangan juga diterima anak saat mereka melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan sehingga muncullah perasaan bersalah.

Meskipun wajar terjadi, tingkah laku anak yang dianggap nakal itu terkadang membuat orangtua marah dengan berteriak kesal, mengucapkan kata-kata yang secara tidak sadar dapat membuat diri anak merasa down hingga menyakiti secara fisik seperti memukul. Bagaimana ya cara terbaik dalam menghadapinya?

Ajak anak untuk mengobrol

Ajaklah anak untuk berbicara tentang hal negatif yang sudah ia lakukan. Pastikan bahwa anak sudah siap diajak untuk bicara. Yang terpenting, situasi dan kondisinya harus tenang, nyaman dan fun agar anak tidak merasa sedang dimarahi. Kemudian berikan kesempatan pada anak untuk menjelaskan mengapa ia melakukan hal negatif itu. Jika masih ada yang perlu diluruskan dalam pendapatnya, gunakan cara yang halus dengan bahasa yang tidak menjatuhkan harga diri anak. Karena sekali orangtua menjatuhkan harga diri anak, timbul rasa tidak percaya untuk bisa terbuka pada orangtua.

Hargai usaha anak, jangan ungkit hal negatif yang lalu

Jika anak yang tadinya menangis saat minggu pertama masuk playgroup dan sekarang sudah tidak menujukkan perilaku tersebut, hal itu tentu menjadi sebuah kemajuan yang membanggakan. Berilah apresiasi padanya tanpa mengungkit hal negatif yang sudah pernah terjadi. Contoh: “Tadi kakak di kelas main apa saja? Seru ya bisa bermain dengan teman-teman baru. Hebat kak!”. Kalimat tersebut sangat lebih baik dibandingkan dengan “Tadi kakak di di kelas main apa saja? Tumben nggak menangis, kemarin-kemarin kan kakak cengeng sekali”. Percayalah, dengan mendengar hal negatif itu kembali anak akan merasa terintimidasi dan bingung apakah hal yang ia lakukan sudah benar apa belum. Alhasil anak akan menjadi down dan mengulangi perilaku negatif tersebut. Jadi sekecil apapun perubahannya hargailah usaha anak untuk menjadi lebih baik, apresiasi dengan kalimat-kalimat positif, percaya padanya bahwa ia bisa melakukan hal baik secara terus menerus dan lupakan hal negatif yang pernah ia lakukan.

Tidak menegur anak dengan kekerasan fisik maupun psikis

Sebagaian orangtua mungkin berpikir, dengan cara yang keraslah anak mau menuruti nasihat orangtua dan mau mengubah perilakunya menjadi lebih baik. Sebenarnya yang dibutuhkan adalah tindakan yang tegas tapi tidak dengan kekerasan. Tegas artinya orangtua konsisten untuk memberikan aturan dan nilai-nilai pada anak untuk dapat dipatuhi dengan cara yang mudah diterima oleh anak. Beberapa penelitian menyatakan bahwa anak yang sering mendapatkan hukuman dengan kekerasan baik fisik maupun psikis akan membuat anak semakin menentang dan memberikan dampak negatif pada kondisi psikologis anak secara berkepanjangan. Anak akan merasa trauma, depresi, cemas dan kurangnya rasa empati kepada orang lain. Tidak ketinggalan, hubungan antara orangtua dengan anak akan menjadi tidak baik jika kekerasan terus dilakukan.

Menjadi role model yang baik untuk anak

Semua orangtua pasti menginginkan anak yang cerdas dan tumbuh menjadi orang dengan kepribadian yang baik. Namun akan sulit jadinya jika orangtua hanya berharap dan menyuruh anak untuk menjadi anak yang baik jika lingkungannya tidak menirukan hal tersebut. Ingat, di usia ini anak senang meniru apapun yang terjadi di lingkungannya. Oleh karena itu sudah seharusnya bagi orangtua untuk menanamkan nilai-nilai moral, menjelaskan hal baik dan buruk serta memberikan pemahaman agar anak dapat mempelajarinya. Contoh, anak sudah tahu kalau sehabis membaca, buku harus diletakkan pada tempatnya namun ia sering melihat orangtuanya tidak meletakkan barang pada tempatnya, maka anak akan cenderung untuk berperilaku sama dengan orangtuanya karena mereka lah yang anak lihat sehari-hari. Hal ini erat kaitannya dengan perkembangan moral anak hingga ia dewasa nanti.

 

Penulis: Amelia Ajrina, S.Psi

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail