Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

image16

Hidup bersama keluarga besar sudah menjadi gaya hidup sekarang. Pasangan muda yang kesulitan mencari pengasuh bagi, pasangan usia lanjut yang memiliki masalah kesehatan tertentu, anak-anak yang butuh pengawasan penuh dari orang yang bisa dipercaya selama orangtua bekerja, sering kali menjadi penyebab mengapa hidup bersama keluarga besar adalah pilihan yang paling efektif untuk memenuhi kebutuhan bersama.

Didalam keluarga besar terdapat beberapa generasi yang saling berinteraksi, yaitu generasi nenek-kakek (teratas), generasi ayah-ibu (ditengah-tengah), dan generasi anak-anak (dibawah). Kondisi tersebut layaknya sebuah roti isi (sandwich) membuat ayah dan ibu berada ditengah-tengah dan sering disebut sebagai sandwich generation.

Sandwich generation kerap kali berhadapan dengan masalah psikologis seperti:

  • Double standart

Masalah double standart atau standart ganda kerap kali timbul di keluarga yang terdiri dari beberapa generasi. Salah satu contohnya adalah ketika ayah-ibu mengajarkan untuk rutin merapihkan kamar. Namun disisi lain, anak selalu melihat kamar nenek dan kakek selalu dirapihkan asisten rumah tangga.

  • Parenting style

Pola asuh yang diterapkan ayah ibu biasanya merupakan hasil diskusi ayah dan ibu berdasarkan pengalaman hidupnya dan pengalaman orang lain di sekitarnya. Pola asuh yang diterapkan ayah ibu kepada anak, mungkin berbeda dengan pola asuh yang diterapkan nenek-kakek untuk ayah ibu dan mungkin juga berbeda dengan pola asuh yang diterapkan nenek kakek ke anak.

Perbedaan pola asuh ini seringkali membuat peraturan dan pelatihan kemandirian tidak berjalan konsisten bagi anak. Anak pun menjadi bingung dan memutuskan untuk mengabaikan semua hal.

  • Disicpline issue

Latihan penerapan dispilin bagi anak di keluarga besar sangat sulit. Ada banyak orang yang terlibat. Ada banyak individu yang secara langsung ataupun tidak mempengaruhi proses latihan tersebut. Bayangkan jika ayah dan ibu bersama-sama dengan anak memutuskan beberapa aturan disiplin dirumah. Disatu sisi, ayah dan ibu mematuhi aturan tersebut dan memberi contoh disiplin bagi anak. Di sisi lain, anggota keluarga yang lain merasa bahwa aturan yang dilatihkan tidaklah penting dan malah mengabaikan aturan tersebut. Jika hal itu terjadi, kemungkinan besar anak akan menjadi bingung dan tak sedikit yang memutuskan untuk tidak mematuhi aturan yang disusun bersama ayah dan ibu.

  • Kurang memperhatikan diri sendiri.

Mengasuh dua generasi yang berbeda karakteristik usia dan berbeda kebutuhan adalah hal yang melelahkan fisik dan menguras pikiran. Terkadang waktu 24 jam sehari terasa tidak cukup. Tak jarang, ayah/ibu/keduanya tidak memiliki waktu untuk diri sendiri dan waktu untuk berdua bersama pasangan. Kondisi ini kadang membuat ayah/ibu menjadi kurang memperhatikan kebutuhan dan kesehatan psikologis dirinya sendiri.

Melihat beberapa masalah yang mungkin muncul dari tinggal bersama keluarga besar, ada baiknya pasangan muda menghindari situasi sandwich generation. Namun sayangnya, bagi beberapa pasangan, menjadi sandwich generation bukanlah sesuatu yang dapat dihindarkan. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan untuk meminimalisir efek dr kondisi sandwich generation.

  1. Merencanakan kehidupan berumah tangga dengan baik.

Setiap pasangan yang hendak menikah sebaiknya sudah terlebih dahulu merencanakan kehidupan keluarga mereka, dimana mereka akan tinggal dan bagaimana sumber penghasilan mereka kelak.

  1. Melatih kemandirian anak

Latih kemandirian anak sejak usia dini. Sesuaikan tugas dan tangungjawab dirumah sesuai dengan usia dan kemampuannya. Dengan demikian, diharapkan dimana pun anak berada, anak bisa tetap mandiri.

  1. Memilah-milah permintaan pertolongan yang perlu disetujui dan yang bisa ditolak

Berada diantara dua generasi yang “bergantung” terkadang melelahkan secara fisik dan mental. Permintaan bantuan dan pendampingan seringkali membuat rencana dan time-planner harian tidak berjalan dengan sesuai. Oleh karena itu, mulailah berlatih mengatakan “tidak”. Menolak permintaan yang bisa dilakukan oleh nenek-kakek atau anak-anak secara mandiri.

  1. Merencanakan kehidupan pasca pensiun dengan baik

Dimasa produktif selain memikirkan tentang keperluan anak, orangtua juga sewajarnya memikirkan persiapan pensiun. Memikirkan dimana akan tinggal dan kegiatan apa yang akan dilakukan saat telah pensiun.

  1. Lakukan diskusi keluarga secara rutin

Berkumpul dan bercerita bersama keluarga secara rutin diharapkan akan meningkatan pengertian dan kasih sayang antar anggota keluarga, terutama kasih sayang antara cucu dan nenek-kakek. Setiap anggota keluarga diharapkan jadi memiliki pemahaman yang sama tentang kondisi anggota keluarga yang lain dan cita-cita masa depan keluarga secara umum.

  1. Berikan anak kebebasan untuk hidup mandiri segera setelah anak mandiri secara usia dan financial

Jika kondisi sandwich generation terjadi hingga anak dewasa, maka ada baiknya jika anak yang sudah dewasa dan mandiri secara financial diperkenankan kost/menyewa tempat tinggal/membeli rumah sendiri.

  1. Siapkan rumah untuk keluarga inti yang bisa dikunjungi di akhir pekan / saat liburan.

Jika kondisi sandwich generation terjadi karena alasan kesehatan nenek-kakek, maka sebaiknya keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak tepat memiliki rumah keluarga sendiri yang bisa dikunjungi saat akhir pekan/liburan/saat-saat tertentu. Dengan demikian diharapkan keluarga inti tetap solid dan memiliki rasa kebersamaan yang erat.

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail