Sensory for kids: Yuk Kenalan dengan Sistem Taktil!

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Apakah ada diantara anak Ayah Bunda yang suka merasa jijik ketika memegang lem colek? apakah ada yang merasa tidak suka berjabat tangan? atau adakah yang tidak suka dipeluk? atau teman-teman justru suka sekali memegang benda-benda tertentu? senang mengutak atik lego atau mainan konstruksi? atau ada yang tidak suka menginjak pasir di pantai atau justru suka sekali bermain pasir tersebut? Bagian mana di tubuh yang merasakan sensai lem colek, dipeluk, memegang lego dan menginjak pasir? Semua pertanyaan tersebut akan terjawab di pembahasan kita kali ini yaitu Taktil.

Dalam bahasa Indonesia, taktil berkaitan dengan sentuhan atau rabaan. Jadi sensori taktil / indera adalah alat untuk merasakan rabaan atau dapat juga dipahami sebagai alat peraba / alat untuk meraba yang disebut sebagai kulit. Lalu dimana kulit itu? Kulit terletak pada seluruh area kulit dan sebagian dari selaput lender. Kulit berada di seluruh permukaan tubuh kita bagian luar yaitu dari kulit kepala sampai telapak kaki. Namun bukan hanya itu, bagian berselaput lendir seperti kulit di dalam mulut, di dalam hidung dan di dalam telinga juga termasuk bagian dari area taktil. Kulit merupakan  organ terbesar yang ada di tubuh manusia, yang mana luasnya 1,5 hingga 2 meter persegi dan rata-rata berat kulit orang dewasa sekitar 2,7 kilogram. Kulit adalah pembatas tubuh kita dengan dunia luar. Fungsi utama kulit secara fisik adalah mencegah masuknya pathogen (virus, bakteri dan kuman). Fungsi kimia dari kulit adalah mampu membentuk hubungan berbagai sel efektor dan mediator molekul yang membentuk sistem kekebalan tubuh dan juga kulit mampu melawan pathogen dengan lapisan kimia anti mirobialpeptide. Maka bisa kita katakan bahwa kulit adalah batas utama dalam perlindungan (skin is the first line of defense) atau dengan kata lain sistem kekebalan tubuh yang disebut sistem imunitas pertama yaitu alat taktil.

Komponen kulit terdiri dari air, lemak, beberapa jenis mineral dan senyawa kimia. Lapisan kulit terdiri dari 3 lapisan utama yaitu epidermis (bagian luar), dermis (bagian tengah) dan hipodermis (bagian dalam). Selain sebagai perlindungan utama tubuh, kulit / alat taktil juga memiliki fungsi lain yaitu:

  • Melindungi tubuh yang tidak hanya sekedar mencegah masuknya pathogen, namun juga berfungsi melindungi bagian-bagian dalam tubuh seperti otot, tulang, ligament, pembuluh darah, sel saraf serta organ dalam lainnya.
  • Sebagai perlindungan dalam menjaga indera peraba/ takti. Di kulit terdapat beragam ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai indera “perasa” dari tubuh. Dengan adanya perubahan suhu seperti panas dan dingin, kualitas dan kuantitas sentuhan, getaran, tekanan, tekstur benda hingga rasa nyeri dan sensasi lainnya yang bisa dirasakan tubuh, biasanya fungsi taktil/peraba adalah untuk meneruskan informasi dari kulit seperti halus atau kasar, kuat atau lemah, kualitas tekstur benda seperti kasar-halus, tajam-tumpul, panas-dingin, berat-ringan, keras-lembek/empuk/lunak, kaku-kenyal/lentur, lengket dan juga rasa nyeri (letih, lesu, lelah, capek, penat, ngilu, mulas, perih, pedih) sampai rasa sakit. Juga mengartikan kualitas sentuhan pada tangan sepeti raba, sentuh, colek, tepuk, pukul, pegang, dorong, tarik, rangkul, peluk dan sebagainya.
  • Menjaga suhu tubuh. Kulit adalah bagian pertama yang merespon naik dan turunnya suhu tubuh. Untuk mendinginkan tubuh yang kepanasan, maka tubuh mengeluarkan keringat. Kulit dan kelenjar keringat juga berperan dalam sistem sekresi atau pembuangan racun dan zat sisa metabolisme di dalam tubuh melalui keringat.
  • Kulit sebagai tempat penyimpanan lemak dan membantu sintesa vitamin D. Keberadaan lemak didalam kulit inilah yang memungkinkan berlangsungnya proses sintesis vitamin D yang diperoleh dari sinar matahari.
  • Mendukung penampilan. Dengan beragam perbedaan warna kulit dan tektur yang dimiliki maka  kita semua harus menjaga kulit kita agar tetap bersih dan terawat.

Dalam sensori taktil / kulit ini kita juga perlu berkenalan dengan sistem somatosensory. Sistem somatosensory adalah suatu sistem yang mendeteksi pengalaman “sentuhan” dari sensori taktil dengan sensori proprioseptif (indera perasa gerak otot-sendi). Sentuhan dapat dianggap sebagai salah satu dari indera peraba namun saat seseorang menyentuh sesuatu atau seseorang, berbagai “perasaan” dapat timbul sehingga muncul “persepsi” tekanan (bentuk, kelembutan, tekstur, getaran) dan lain-lain disertai dengan perubahan ekspresi atau dan dengan respon tubuh. Sehingga istilah “sentuhan” merupakan kombinasi dari berbagai indera.

Beberapa orang ada yang menghindar akan suatu tekstur, ada juga yang tidak nyaman dengan sentuhan orang lain, ada juga yang merasa sakit berlebihan ketika terkena tekstur yang tidak berbahaya, ada yang menolak menyentuh benda-benda biasa yang tidak menyakitkan. Dalam sensori ini dinamakan sensory defensiveness, dimana perilaku seseorang menolak atau menghindar dari satu atau beberapa stimulus yang tidak berbahaya. Jika anak suka sekali memegang benda terus menerus, suka mengentuk ngentuk kayu atau plastik, suka bermain lumpur hingga sekujur tubuhnya atau suka meraba mencari benda-benda kecil maka dalam sensori ini dinamakan sensory seeking tactile yaitu perilaku mencari input yang berlebihan pada area taktilnya. Lalu bagaimana cara agar anak-anak bisa mendapat kesesuaian atau perilaku adaptif pada kulitnya? Berikuit tips-tips cara menstimulasi input taktil yang dapat ayah bunda lakukan:

  • Lakukan obervasi pada diri anak dengan menemukan profile sensori yang ditampakkan pada beragam tesktur atau sentuhan sehari-hari.
  • Lalu beri checklist pada anak yang mengalami gangguan dalam pemrosesan sensorinya sesuai dengan kebutuhannya (menolak atau menyukai berlebihan).
  • Kemudian bantu anak mengenali beragam tekstur, sebaiknya diberikan aktivitas yang disukai terlebih dahulu baru pada aktivitas yang tidak disukai. Diharapkan setiap orang dewasa atau orangtua memahami dan membantu tahapan respon anak terhadap tekstur/sentuhan yang diberikan. Serta orangtua harus tetap menjadi ruang “aman” bagi anak dalam mengeksplorasi kebutuhannya.
  • Awasi respon anak dan ingat dalam memberikan aktivitas selalu dilakukan sambil bermain dan permainan (play and games).
  • Beri kesempatan pada anak untuk mengartikan dan memaknai sentuhan/tekstur yang diberikan.

Selain itu, dalam memberi permainan sensori taktil pada anak, ada beberapa tips yang ayah bunda perlu perhatikan, yaitu:

  • Pastikan menjaga kesehatan kulit dengan mandi 2 kali sehari menggunakan sabun dengan tepat dan air mengalir. Durasi mandi tidak lama dan tidak menggunakan air yang terlalu panas, sebaiknya semakin besar usia anak cukup kenalkan dengan air biasa untuk mencegah luka dan menjaga kelembaban kulit
  • Sediakan beragam tekstur makanan atau benda (5 macam) dan minta anak jelaskan apa yang dirasakan melalui tangannya dan tubuhnya
  • Bermain sentuh bagian tubuh (kepala, pundak lutut kaki)
  • Bermain feely the box, masukan beragam benda di dalam suatu boks dan minta anak memegang tanpa melihat dan menamai benda tersebut
  • Bermain membedakan rasa sakit pada tubuh seperti bagian tubuh apa yang merasa pusing?, bagian tubuh apa yang merasa mulas?, bagian tubuh apa yang merasa perih?
  • Melatih anak menyatakan suka dan tidak suka ketika merasa tidak nyaman
  • Melatih anak dengan konsep berat-ringan pada benda-benda sesungguhnya seperti membawa buku tebal dan buku tipis, membawa buah apel 2 buah dan 1 kilogram dan lain-lain
  • Kenalkan konsep skala pada hal-hal yang dilakukan sebagai latihan menilai subyektif/menilai berdasarkan penilaian diri sendiri, seperti jika anak merasa kedinginan tanyakan skalanya berapa kalo 1-10 ( 1 kurang dingin-10 dingin sekali)

Selamat bermain dan berproses bersama ananda, Ayah Bunda!

Penulis: Siti Maulany, S.Psi

Picture: https://pintubelajarcerdas.blogspot.com/2017/03/3-lapisan-struktur-kulit-kulit-ari.html

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail