Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Baby’s-Social-Development-1

Betapa bahagianya seorang ibu ketika mendengar tangis pertama bayi yang ia lahirkan. Tagisan yang mengindikasikan berbagai hal terutama tanda bahwa bayi telah lahir kedunia dengan selamat. Yang tak kalah pentingnya, tangisan bayi yang baru lahir mengindikasikan minat interaksi anak dengan lingkungannya.

Sosialisasi seringkali didefinisikan sebagai proses dan upaya seseorang untuk menjadi bagian suatu masyarakat dalam usaha untuk mengenal dan menghayati budaya sekitarnya. Merujuk pada definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (2015)tersebut terlihat bahwa usaha dan proses tersebut ternyata dimulai sejak anak dilahirkan kedunia ini.

Setelah tangisan pertama, bentuk sosialisasi selanjutnya adalah respon senyuman. Di satu hingga tiga bulan, anak akan berlatih memberikan respon sosial berupa senyuman. Di usia ini anak akan menyeleksi input suara dan visualisasi tampilan wajah orang lain. Ketika suara atau wajah yang dilihat adalah sesuatu yang ia kenal maka ia akan memberikan respon berupa senyuman.

Memasuki usia 4 bulan, pola sosialisasi anak bertambah kompleks. Jika pada tahap sebelumnya diperlukan stimulus berupa suara atau tampilan wajah orang yang dikenal untuk memunculkan senyuman anak, maka pada tahap ini anak mulai dapat menginisiasi pemenuhan kebutuhannya atas sosialisasi. Di usia sekitar 4 bulan anak dapat dengan mandiri memulai siklus sosialisasi dengan cara tersenyum pada orang yang ia kenal.

Di usia ini pula, anak mulai berlatih menampilkan senyuman dengan berbagai makna. Senyuman bahagia, senyuman sedih, dan kadang kala senyumanan ingin tahu. Selanjutnya senyuman ini berubah menjadi senyum sosial yang kelak menjadi pintu utama sosialisasi dan komunikasi anak. Peningkatan kemampuan ini disertai pula penambahan variasi intonasi dalam jeritan dan tangisan. Hal tersebut adalah cara lain anak menyampaikan apa yang ia sukai dan tidak sukai kepada orang terdekatnya terutama ibu.

Pada usia ini, anak pun menjadi lebih waspada pada orang asing atau orang yang baru disekitarnya. Penolakan anak terhadap kehadiran orang asing mengindikasikan bahwa dirinya mulai melatih kontrol sosialisasi yang ia miliki. Ia yang memiliki kendali dengan siapa ia mau bersosialisasi dan dengan siapa ia menolak terjadinya interaksi.

Di usia 6-9 bulan, cooing dan babling muncul menambah khasanah kemampuan komunikasi dan sosialisasi anak. Perhatiannya mulai meluas pada setiap orang yang ada disekitarnya. Anak mulai melatih diri terlibat pada komunikasi dan interaksi dua arah secara lisan. Babling semakin bermakna ketika anak memasuki usia 11 bulan.

Di usia 12-18 bulan, keajaiban pun terjadi. Orangtua mulai mendengar kata-kata pertama dari anak. Ketrampilan anak untuk melibatkan diri dalam sosialiasi dengan teman-teman sebaya dan orang dewasa di sekitarnya pun meningkat. Anak mulai dapat berinteraksi lebih bebas. Anak juga lebih aktif menyerap pembelajaran yang ada disekitarnya terutama pembelajaran komunikasi dua arah.
Happy Parenting.. 🙂

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail