Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Setelah melewati masa kelahiran, bayi yang berusia 3 bulan masih terlihat tiak berdaya namun mulai menampakkan ketertarikannya pada linngkungan sekitar terutama lingkungan rumah dan anggota keluarga. Secara fisik, bayi yang sehat adalah yang terpenuhi gizinya dengan asi sehingga pertumbuhan akan terlihat cepat dari segi berat badan dan tinggi badan. Namun selain aspek fisik, bayi usia 3 bulan juga menunjukan perkembangan lain yang paling terlihat yaitu perkembangan alat sensori dan motorik. Berikut perkembangan sensori dan motoric bayi usia 3-6 bulan:

  1. Bayi usia 3 bulan mulai menunjukkan banyak gerak terutama gerakan tungkai (gerakan bersamaan antara tangan dan kaki) dan dengan meningkatnya kesadaran bayi akan lingkungan maka perkembangan otot punggung mulai banyak terlihat. Bayi-bayi yang awalnya hanya sekedar tiduran mulai nampak menggerak-gerakan tubuhnya ke samping kiri atau kanan. Dengan adanya kesempatan si bayi berlatih dan mulai juga berkembang motivasi internal untuk melawan gravitasi, bayi akan terus berusaha untuk belajar menahan leher dengan mengubah posisi telentang ke telungkup hingga ia belajar tengkurap. Perubahan proses gerak motoric ini, karena adanya perkembangan dari sensori proprioseptif (sensori yang berhubungan dengan kerja otot dan persendian) dan vestibular (indera yang berhubungan dengan gaya gravitasi). Pencapaian proses gerak motoric ini sangat beravariasi dari masing-masing bayi namun umumnya bayi mampu tengkurap sendiri dan sudah dapat menahan lehernya secara tegak saat berguling di usia 4-5 bulan.
  2. Bayi mendapat dekapan dan pelukan kasih sayang dan sentuhan perlahan akan membangun pemahamannya terhadap sentuhan dikulitnya. Sentuhan tersebut akan membuat bayi merasa aman dan selamat sehingga membantunya lebih tenang dikemudian hari dan akan membangun kepercayaan dirinya.
  3. Ketika bayi sudah mulai belajar menopang badan dengan pola ekstensi/tegak secara gradasi pada tangannya untuk mengangkat dada, maka bayi mulai mampu mengontrol gerakan kepala dengan lengkap dan memberikan dasar yang stabil pada perkembangan oto-otot mata. Pada saat inilah bayi tertarik dengan wajah orang terutama ibu dan anggota keluarga serta mainan atau benda-benda yang nampak disekitarnya. Dan pada masa ini jarak penglihatan bayi juga sudah mencapai lebih dari 50 cm. Pada saat ini mulailah melatih keterampilan visual bayi dengan memberikan beragam ekspresi wajah, terutama ekspresi senyuman, dan mengembangkan kemampuan bayi untuk menatap objek yang bergerak.
  4. Bayi yang sedari usia sebelumnya (dibawah 3 bulan) sudah mendapat stimulasi auditory dengan beragam suara lembut, diajak berbicara, diikut sertakan dalam percakapan dan didengar saat ia menangis, maka pada usia sekitar 3 bulan ia sudah mampu membedakan bunyi dan segera memberikan perhatian pada suara termasuk kata-kata. Semakin banyak jumlah kata yang terdengar bayi dan melakukan percakapan yang responsif akan membangun kosakata bayi dan mempermudah proses bayi mempelajari kata-kata baru.
  5. Pada masa ini, awal perkembangan kemampuan tangan beriringan dengan informas, kemampuan visual dan auditory bayi. Para bayi mulai mengambil, meraih, melambaikan dan memukul benda. Awalnya para bayi akan mengumpulkan benda dengan kedua tangannya ditengah tubuh, hingga akhirnya dengan kecakapan tengkurap maka bayi akan mencoba meraih pada bagian kanan dan kiri tubuhnya.
  6. Pada periode diatas usia 4 bulan, refleks bayi tidak lagi mendominasi perilakunya. Bayi sudah mulai melakukan berbagai tindakan yang mempunyai maksud tertentu didasari oleh keinginannya dan bersifat responsif terhadap perubahan yang terjadi disekitarnya.

Berdasarkan perkembangan sensori tersebut maka bayak kegiatan untuk bayi yang dapat menunjang perkembangan lainnya seperti perkembangan sosial yaitu kesadaran terhadap sekitar, bahasa reseptif, motorik, emosi dan keterikatan dengan orangtua serta perkembangan bermain. Adapun beberapa cara stimulasi yang menyenangkan untuk bayi usia 3- 6 bulan yaitu:

  1. Acara mengganti popok dan sesudah mandi adalah sarana bermain yang menyenangkan untuk bayi di usia ini. Ajak berbicara sambil menggerakan kaki dan tangannya. Ucapkan kata-kata pendek ketika menggerakan kakinya seperti “naik, turun, buka dan tutup”. Ulang dan ulangi kata-kata tersebut sehingga bayi menyadarinya untuk melakukannya sendiri. Jika anak berhasil beri senyuman dan pujian. Kegiatan ini mencakup kesadaran akan input proprioseptif.
  2. Mengembangkan kekuatan otot punggung dengan membangun kesadaran akan input vestibular yaitu dengan kegiatan mempelajari keseimbangan tubuh saat bayi belajar berguling dan tengkurap. Selain itu ajaklah bayi dengan kegiatan ditimang dan berayun. Untuk kegiatan berayun bisa dengan pemberian ayunan perlahan maju mundur dan berayun di paha orang dewasa. Kemampuan vestibular akan menunjang kemampuan merangkak di periode selanjutnya.
  3. Keterampilan motorik yang dilakukan berulang dengan mengunakan otot dan keseimbangan tubuh akan menguatkan otot bayi serta meningkatkan elastisitas tubuhnya. Maka kegiatan berguling, tengkurap, menendang, meraih benda di samping tubuh (di kanan dan kiri tubuhnya) meraih sesuatu dikakinya dan lainnya secara mandiri akan menguatkan sirkuit neuron bayi.
  4. Pengalaman sensori yang paling disukai bayi adalah diberi ragam sentuhan dan tekstur. Ragam sentuhan lembut di kulit bayi seperti  menggosok, mengetuk (gunakan  jari telunjuk dan jari tengah kita), memijat, meremas/menekan dan menepuk (gunakan ke empat jari kita hingga kegenggaman tangan) serta lanjutkan beri ragam tekstur bahan pada tubuh bayi seperti bahan sutra, beludru, bulu, wol, kapas bola. Mencium bayi juga sebagai sarana bermain yang menyenangkan, ciumlah pipi, hidung, kepala, tangan dan kaki bayi. Melalui ikatan kasih sayang akan membantu bayi untuk membangun kepercayaan diri.
  5. Karena hal yang menarik bayi adalah wajah manusia, maka letakkan wajah kita berdekatan dengannya. Pelan-pelan gerakan wajah kita ke berbagai arah, misalnya dari dari samping ke samping/ kiri ke kanan, belakang dan depan, jauh dan dekat. Katakan apa yang kita lakukan. Variasikan dengan suara-suara lucu ketika melakukan gerakan tersebut.
  6. Beri pengalaman bermain dengan mengembangakan informasi visual dan auditori, dengan mengamati benda-benda di sekitar rumah seperti di halaman rumah atau melalui jendela rumah. Duduklah di luar dengan bayi untuk menstimulasinya seperti mengamati burung yang terbang dari satu tempat ke tempat lain, amati mobil yang berjalan atau amati batang pohon yang digerakkan oleh angin.
  7. Pada usia ini bayi sering kali membuat berbagai suara. Tiru suara yang dibuat bayi yang kemungkinan suara sederhana itu akan berlanjut menjadi kata-kata. Ambil kata-kata yang dibuat si kecil misalnya “ba ba” atau “ma ma” dan rangkai menjadi kalimat. “ma ma sayang kamu” atau “mbek mbek suara kambing”. Menurut seorang ahli perkembangan anak, anak kita dapat mengucapkan ratusan suara berbeda sepanjang hari, tapi bila kita bertepuk tangan atau memuji sewaktu ia mengucapkan “ma ma” atau “da da” maka si kecil akan terus mengulanginya karena itu membuat kita senang. Semakin kita sering memaknai suara si kecil, ia akan semakin terdorong mengeluarkan lebih banyak suara. Variasikan juga dengan melakukan percakapan sederhana dengan si kecil dan kalimat singkat “hari ini indah ya”. Usahakan posisi tubuh berhadapan dengan bayi saat bercakap-cakapan. Saat bayi nampak berbicara jawablah dengan anggukan kepala atau tersenyum. Buatlah suasana mengobrol menjadi momen yang mengasyikkan seperti ditambah lagu, irama dan tepuk tangan.

Bermain dengan si kecil yang sudah mulai banyak memberi respon kepada kita adalah awal membuat keterikatan antara anak dan orangtua. Tanggapan kita akan membangun kepercayaan diri anak. Anak membutuhkan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan tubuhnya dari gerakan, sentuhan, suara dan apa saja yang dapat dilihat disekitarnya, namun hubungan emosi yang terjalin dengan memberikan perawatan yang disertai kasih sayang dari belaian kita, sentuhan, tatapan dan kata-kata akan memberikan stimulasi emosional yang positif pada otak anak.  Selamat mencoba Ayah Bunda, selamat bermain dengan si kecil!

Penulis: Siti Maulany, S.Psi

Picture: People photo created by senivpetro – www.freepik.com

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail