Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Peran ayah dan ibu sangatlah penting untuk melindungi dan menjadi sosok teladan bagi anak. Namun, banyak yang menganggap bahwa sosok ibu saja yang paling penting dalam perkembangan anak, sementara ayah hanya dipandang sebagai peran tambahan dalam mengasuh anak. Kontribusi ayah bahkan dipandang sangat rendah dan tidak lebih dari sekadar pemberi nafkah. Seringkali kehadiran seorang ayah dalam keluarga tidak dirasakan secara psikis meski hadir di rumah, karena pola pengasuhan lebih banyak dilimpahkan pada ibu. Padahal berdasarkan penelitian dari tokoh Psikologi Trent W. Maurer & Joseph H. Pleck pada tahun 2006, anak yang mengalami relasi intensif dengan ayahnya sejak lahir akan tumbuh menjadi anak yang memiliki emosi yang stabil, percaya diri dalam mengeksplorasi dunia sekitar, memiliki prestasi akademik yang baik dan ketika tumbuh dewasa mereka akan dapat mampu membangun relasi sosial yang baik. Jadi, kapan dimulainya keterlibatan ayah?

Memulai keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak

Sejak anak masih berada di kandungan ibu, ayah tentu dapat memulai keterlibatannya dimulai dengan cara yang sederhana yaitu mengajak anak yang ada di dalam perut berinteraksi. Hal ini mampu melatih anak untuk terbiasa dengan suara ayah, sehingga saat lahir nanti anak merasa nyaman atau tidak rewel jika didekatkan dengan ayah. Dalam masa menyusui antara ibu dan anak, ayah pun juga dapat ikut terlibat seperti membantu ibu dalam mempersiapkan kebutuhan menyusui serta menciptakan suasana yang menyenangkan agar proses menyusui dapat berjalan dengan lancar.

Berdasarkan teori dari Gordon E. Finley dan Seth J. Schwartz dari Departemen Psikologi di Universitas Florida, terdapat 3 dimensi dalam keterlibatan ayah dalam pengasuhan yaitu: ekspresif, instrumental dan mentoring/pengarahan. 

Keterlibatan dimensi ekspresif

Ketika anak sudah beranjak balita, mulailah untuk membangun kedekatan emosional dengan anak. Ayah bisa mengajak anak untuk lebih sering berinteraksi, membacakan buku cerita dan memberikan sentuhan kasih sayang seperti memeluknya sebelum tidur. Membangun kedekatan emosional sangatlah penting agar ayah dapat ikut memasuki dan memahami dunia anak. Kedekatan emosional merupakan kunci untuk bisa membangun hubungan yang baik dengan anak sampai masa dewasa nanti. Selain itu, ayah juga harus menjadi teman main yang baik untuk anak seperti mengurus hewan peliharaan bersama atau melakukan aktivitas yang disenangi anak. Selain membangun kedekatan emosional dan melatih fungsi motorik anak, aktivitas tersebut juga dapat membuat anak belajar untuk bekerjasama, jujur dalam bermain, dan bertanggung jawab.

Keterlibatan dimensi instrumental

Pemberian dukungan materi dan non-materi juga wajib dipenuhi ayah seperti dukungan ekonomi untuk menunjang kebutuhan sehari-hari anak, memberikan perlindungan ketika berada dirumah maupun tempat lain serta mendukung aktivitas keseharian anak. Keterlibatan ini akan membuat anak merasa aman secara emosi dan fisik.

Keterlibatan dimensi mentoring/pengarahan

Ayah merupakan kepala keluarga yang digambarkan dengan sosok yang powerful dan tegas. Maka, turut ikut mempersiapkan masa depan anak dengan memberikan dampak positif dan perubahan baik pada anak sangat diperlukan, seperti mendukung dan mengembangkan potensi anak pada bidang yang menjadi kesukaannya. Hal ini dapat dilakukan ayah dengan memberikan kepercayaan, nasihat dan penguatan-penguatan positif pada setiap proses pembelajaran yang dilakukan oleh anak. Jika dari kecil anak sudah terbiasa dengan ayah yang turut ikut serta dalam proses trial dan errornya, maka anak juga akan terbiasa untuk berbagi cerita dengan menjadikan ayah sebagai “mentor” dan menerima dengan penuh kehadiran ayah dalam masa perkembangannya sampai masa dewasa nanti, sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri dan percaya diri.

Yuk, mulai hargailah kemampuan ayah dalam mengurus anak. Bagaimanapun juga, keterlibatan ayah dipengaruhi oleh dukungan ibu. Yang perlu diingat, peran ayah dan ibu di dalam keluarga haruslah seimbang. Dari ayah dan ibu, anak juga belajar mengenai pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, lho. Oleh karena itu mulailah untuk saling memberikan dukungan positif dan terbuka dalam hal komunikasi kepada satu sama lain. Karena, ayah yang terlibat dalam keluarga akan lebih percaya diri, merasa keterlibatan lebih bermakna dan merasa dibutuhkan oleh anak-anak sehingga ayah lebih terdorong untuk terus terlibat dalam pengasuhan. Let’s make a happy family together!

 

Penulis: Amelia Ajrina, S.Psi

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail