Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Girl showing stop gesture to angry mother in bed

Salah satu klien saya pernah kewalahan menghadapi anak laki-lakinya yang sekarang menginjak usia remaja. Menurut sang ibu sekarang anaknya sudah bukan lagi anak baik seperti sebelumnya, semua perintahnya ditanggapi dengan ketus dan diakhiri dengan pertentangan. Ibu juga mengeluh karena sang anak sekarang lebih suka berkumpul dengan teman-temannya dibandingkan jika diajak pergi dengan keluarga. Selain itu anak juga jadi terpengaruh ikut perilaku teman-temannya seperti memilih naik bus sesak dan bergelantung dibandingkan naik kendaraan jemputan seperti sebelumnya.

Apa yang harus saya lakukan?
pertanyaan itu yang umum diajukan para orangtua. Berikut adalah bahasan terkait hal tsb.

Komunikasi dengan remaja memang merupakan tantangan sendiri bagi orangtua. Hal ini bukan hanya dari sisi orangtua yang menghadapi banyak perubahan pada anaknya, tetapi juga pada si anak sendiri. Anak yang mulai memasuki dunia remaja sering disebut-sebut berada di dalam fase “thunder and storm” dimana anak mengalami banyak sekali perubahan di dalam dirinya baik secara hormonal/fisik juga dalam pemikiran/kognitif. Saat ini dunianya bukan lagi dunia anak-anak yang masih sangat manis, tetapi sudah masuk ke persoalan orang dewasa yang semakin kompleks. Masa transisi, ya itulah sebutannya transisi dari masa yang lugu ke masa realitas kehidupan. Dalam tahapan ini pemikiran anak jauh lebih berkembang dan mulai bisa melihat sisi abu-abu dari hitam dan putih. Tentunya dengan bimbingan yang baik dari orangtua dan orang sekitar diharapkan remaja dapat melewati masa ini dan berhasil menjadi pribadi yang bijak dan terarah.

Untuk memulai bimbingan itu tentunya orangtua perlu memiliki jurus jitu dalam mendekati dan memberikan arahan yang baik. Agar komunikasi tercipta dan terasa sebagai teman, bukan sebagai lawan yang tentunya akan dijauhi anak. Seru kan? nah ini langkah – langkah yang perlu diperhatikan orangtua untuk sukses berkomunikasi dengan remaja.

1. Pahami arti Remaja

Orangtua perlu sadar betul bahwa dunia remaja adalah periode transisi. sesekali orangtua boleh merujuk pada dirinya sendiri saat remaja, apa saja yang dirasakan saat itu dan jadikan rujukan untuk situasi menghadapi anak. Pada masa ini anak juga mulai memberikan jarak pada orangtua dan mulai merasa butuh waktu sendiri atau dengan teman-temannya.

2. Cari waktu yang sesuai dan kontrol reaksi anda

Perhatikan suasana dan waktu yang tepat untuk berkomunikasi dengan remaja anda, jika suasana mendukung dan anak dalam kondisi emosi yang baik biasanya ia akan lebih mudah mencerna pembicaraan atau masukan yang diberikan orangtua. Begitu juga sebaliknya, jika anak dalam kondisi emosi yang buruk maka hindari pembicaraan yang mengandung unsur kontra karena hanya akan menimbulkan konflik antara orangtua dan anak. Hindari juga reaksi spontan dan berlebihan dari perilaku anak yang tidak diharapkan, hal ini dikarenakan sistem kerja yang mengatur perilaku anak akan mengarah pada perilaku yang diperkuat, artinya reaksi berlebihan anda dapat dianggap sebagai penguat perilaku tsb. Alih-alih menghilangkan perilaku negatif, malah anak akan terus menerus membentuk perilaku yang sama.

3. Masuk dari sudut pandang anak atau teman

Sebelum memulai menghakimi remaja sebaiknya kita juga memposisikan diri kita atau melihat masalah dari sudut pandang mereka. Hal ini dapat juga meminimalkan rasa kecewa orangtua atas tidak terpenuhinya harapan mereka. Dengan cara ini kita juga bisa mulai memikirkan jalan keluar atau alternative dari masalah yang ada.

4. Jadikan dia sebagai sahabat

Jika anda ingin dianggap anak sebagai teman yang bisa diajak berbagai macam cerita, maka anda harus lebih dulu memposisikan anak anda sebagai sahabat. Ajak dia berbagi tentang dunia anda, tanyakan pendapatnya sesekali. Libatkan anak dalam kegiatan anda bersama teman-teman sesekali, ingat sampai kapanpun anak akan selalu modeling orangtuanya. Siapa tahu suatu saat anda juga diajak hang out bersama anak dan teman-temannya. Perasaan diakui sebagai teman merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan, jika anda berhasil tentunya anda patut mendapat penghargaan lebih sebagai orangtua yang sukses.

5. Berikan contoh cerita

Mekanisme membela diri seseorang akan otomatis bekerja jika ia merasa terancam. Untuk itu, jangan heran jika anda merasa anak anda selalu “membangkang” dan dianggap selalu “defensive” setiap kali anda memprotes perilaku negatifnya. Mari kita ubah konsep menuduh atau langsung menunjuk kesalahan anak, karena tentunya dengan cara tsb anak akan merasa terancam, sehingga masukan anda tidak akan diserap optimal dan anak malah mencari cara atau alasan untuk membela diri serta mencari pembenaran atas perilakunya. Berikan contoh cerita dari kisah tokoh atau orang lain yang mirip dan bisa diambil pembelajaran dari cerita tsb, sehingga anak tidak merasa terancam dan logikanya bisa memproses secara optimal alternative dari perilaku positif yang diharapkan.

6. Aturan dan ekspektasi yang jelas

Walaupun remaja perlu diperlakukan sebagai teman tentunya kita perlu ingat bahwa “they are still our child”, mereka membutuhkan aturan dan harapan yang jelas dari orangtua. Pemberian jadwal serta aturan yang jelas tertulis akan memudahkan anak memahami harapan kita dan mengetahui routine dari kegiatannya sehari-hari. Tuangkan harapan anda dalam bentuk jadwal keseharian yang jelas seperti mulai jam berapa mereka bangun tidur, makan, berangkat sekolah, belajar, dll. Jika mereka berhasil memenuhi harapan mereka tulis juga reward yang akan mereka dapatkan, jangan lupa sisipkan waktu bebas dan jadwal kosong untuk anak menentukan kegiatan favorit mereka sendiri. Tahukan anda, bahwa kemampuan anak memanfaatkan waktu kosong ada dalam tes psikologi? Hal ini bisa melihat daya tahan dan penyaluran anak anda terhadap stress.

7. Bagi pengalaman bukan menggurui

Orangtua yang sering membagi kisah atau bercerita biasanya lebih sukses dalam parenting. Mengapa? Karena lewat bercerita anak bisa mengembangkan imajinasinya, tentunya dalam hal ini kearah yang positif. Melalui cerita pribadi yang mungkin secara logika anak akan melihat sendiri dari hasil yang diceritakan orangtua maupun dari cerita tokoh-tokoh inspriratif, secara perlahan hal ini akan membangun motivasi internal anak. Berbeda dengan instruksi yang langsung akan dianggap anak seperti sekedar perintah, imajinasi anak menjadi lebih tumpul. Tentunya perilaku dari motivasi internal akan lebih bertahan lama dibandingkan motivasi dari luar. Ciptakan imajinasi dan motivasi internal anak anda melalui cerita yang inspiratif, jangan jadikan anak anda robot yang hanya sementara waktu memenuhi perintah anda.

8. Berbagi waktu bersama untuk berbagi harapan dan cita – cita keluarga

Manfaatkan waktu keluarga sebagai waktu bersama. Bukan sekedar menghabiskan sekian jam dengan aktivitas sendiri-sendiri, jadikan kebersamaan tsb sebagai waktu yang berkualitas. Orangtua sebagai pemimpin keluarga bertugas mengarahkan dan menjadi fasilitator harapan dan cita-cita keluarga. Impian apa yang kira-kira bisa diraih bersama, misalnya dengan menyebutkan kesukaan masing-masing. “ayah ingin sekali membawa kalian berlibur ke …” , “ibu senang sekali melihat tokoh ini dan bercita-cita suatu saat salah satu dari anak ibu bisa seperti dia”, kira-kira seperti itu contohnya, tanyakan juga apa harapan dan cita-cita anak. Dengan menciptakan suasana demikian diharapkan akan tumbuh motivasi yang positif di jiwa anak. Mungkin cita-cita anak akan berubah-ubah, kita sebagai orangtua bertugas melihat kekuatan anak dan mengarahkannya. Jangan lupa hargai dengan reward jika ada langkah yang telah berhasil dicapai anak, ingatkan setiap hari dikala memungkinkan. Dengan demikian semangat anak untuk menggapai harapannya akan terus hidup.

9. Reward untuk hasil yang dicapai

Imbalan atau reward bukan hanya berlaku untuk anak kecil. Pujian, senyuman, atau reward berupa waktu malam minggu bersama teman juga bisa dimanfaatkan sebagai reward. Kuncinya adalah sesuatu yang disukai anak, artinya jika orangtua sensitive memahami apa yang disukai dan dibutuhkan anak hal itu bisa digunakan sebagai reward jika anak berhasil melakukan hal yang diminta orangtua seperti misalnya tidak terlambat bangun pagi.

10. Konsisten dan kompak
Setiap usaha yang dilakukan tidak akan terbentuk dengan baik jika orangtua tidak konsisten dan tidak kompak. Anak yang pandai melihat peluang akan memanfaatkan kelemahan orangtua dan menggunakannya untuk alasan. Selain itu sebenarnya anak juga bingung dan menjadi menerka-nerka reaksi orangtua atas perilaku buruk mereka, karena reaksi yang diberikan tidak pasti dan berubah-ubah.pastikan bahwa anak anda mendapatkan perlakuan yang sama dari pasangan anda. Jadi, antara ibu dan ayah sebagai orangtua kompak memberikan treatment kepada anak.

Happy Parenting!

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail