Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

image13

Disiplin berarti menggantikan perilaku yang tidak diharapkan atau yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku dengan perilaku lain yang diharapkan atau sesuai dengan norma yang berlaku. Proses pembentukan disiplin berbeda pada setiap anak, terlebih ketika anak didiagnosa dengan autisme. Orangtua sebaiknya memperhatikan berbagai hal berikut dalam menerapkan disiplin bagi anak dengan autisme.

1. Perhatikan keamanan daerah sekitar.
Jika anak menampilkan perilaku yang tidak diharapkan seperti tantrum di pinggir jalan raya atau ditengah-tengah rumah makan, arahkan anak untuk pindah ke daerah aman.

2.Tenangkan anak terlebih dahulu.
Kemampuan anak dengan autisme yang khas adalah terkerpakuannya terhadap suatu hal / situasi. Jika anak sedang marah, tantrum, memukul, atau melakukan prilaku yang tidak diharapkan, tenangkan anak terlebih dahulu. Pastikan fokus perhatiannya sudah ke orangtua. Setelah itu, sampaikan perilaku apa yang baru ia munculkan. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian perilaku apa yang anda harapkan darinya.

3. Pahami alasan-alasan yang mungkin memicu kemunculan perilaku tersebut.
Kesulitan berkomunikasi secara verbal seringkali menjadi pemicu mengapa anak dengan autisme seringkali menampilkan perilaku-perilaku yang tidak adaptif bagi orang banyak. Perilaku tersebut mungkin dijadikan anak sebagai cara untuk menyampaikan sesuatu yang mengganggunya, sesuatu yang tidak ia sukai, atau sesuatu yang sangat ia sukai. Memahami pemicu kemunculan prilaku dapat membantu menentukan cara penanggulangan yang tepat.

4. Kenali dan tangani emosinya.
Semua manusia mempunyai kemampuan untuk mengekspresikan emosinya. Walaupun cara yang dipilih untuk mengekspresikan emosi berbeda-beda. Ketika anak merasakan kesedihan, kemarahan, kesulitan, dan / atau ketakutan, sebaiknya keluarga memahami dan mengenali dulu apa yang sedang anak rasakan. Dengan berempati terhadap perasaan anak, maka akan lebih mudah untuk menenangkan anak. Kemampuan untuk menenangkan ini diperlukan untuk mencegah munculnya masalah perilaku yang lebih besar dengan pemicu yang sama dikemudian hari.

5. Pantau nutrisi diet anak.
Pada beberapa anak, perilaku dipengaruhi oleh asupan makanan. Sehingga, ada baiknya untuk selalu memantau nutrisi diet anak dan perilaku yang muncul. Jika dirasakan ada hubungan antara kemunculan perilaku tertentu dengan makanan tertentu, segera konsultasikan dengan dokter anak anda.

6. Latih anak untuk berkomunikasi dengan cara yang adaptif.
Beberapa anak kesulitan untuk menyampaikan apa yang ia rasakan atau inginkan secara lisan. Ada anak yang lebih mampu menyampaikan melalui tulisan dan ada juga yang lebih nyaman untuk menyampaikannya melalui gambar. Tulisan dan gambar adalah media yang adaptive untuk dijadikan saluran komunikasi. Latih anak untuk menggunakannya sehingga ia terbiasa untuk menyampaikan keinginan dan perasaannya secara adaptive.

7. Gunakan kalimat yang tepat.
Ketika berbicara dengan anak, perhatikan selalu kalimat anda. Katanya apa yang anda ingin anak lakukan. Sampaikan dengan kalimat yang jelas dan intonasi yang tepat. Jika anak terbiasa menggunakan media gambar untuk berkomunikasi, maka nyatakan apa yang anda ingin ia lakukan sambil memvisualisasikannya dengan gambar.

8. Arahkan fokus anak ke hal yang lebih bermanfaat.
Ketika anak menampilkan perilaku yang tidak diharapkan, sebaiknya kita arahkan dia ke kegiatan menarik lainnya setelah ia tenang.

9. Konsisten
Anak dengan autisme sangat memerlukan aturan yang jelas dan sama. Bila satu orang dalam keluarga sedang mengajarkannya membuang sampah pada tempatnya, maka seluruh anggota keluarga juga mengajarkan hal yang sama dengan cara yang sama dimanapun mereka berada.

10.  Fokus pada hal positif.
Pemberian pengakuan, pujian, dan pelukan sangat memotivasi munculnya perilaku baik. Intonasi yang tenang dan kalimat positif yang jelas sangat bermanfaat dalam pembentukkan perilaku adaptive yang diharapkan.

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail