Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Seringnya kita tidak sabar untuk memberikan kesempatan kepada anak kita untuk mempelajari sesuatu. seringnya kita tidak memberikan kesempatan untuk anak dalam mempelajari sesuatu yang dimana kegiatan “mempelajari”  itu merupakan salah satu tahapan dasar dari anak kita memahami sesuatu dan menjadikannya kebiasaan dan kesukaan. Seringnya kita ingin cepat selesai dalam melakukan sesuatu, termasuk hal-hal yang dilakukan oleh anak kita, yang sebenarnya mereka masih dalam tahapan belajar.

Tahapan belajar inilah yang secara alamiah dan tanpa sadar dilalui oleh setiap manusia. Banyak hal yang dipelajari oleh manusia di awal kehidupannya. Bagaimana mereka bertahan hidup, bagaimana mereka memenuhi segala kebutuhan, bagaimana mereka mendapatkan sesuatu dengan jalan yang lebih mudah, bagaimana mereka mencapai segala sesuatu yang mereka inginkan. Semua dilewati melalui tahapan belajar.

Bayi menangis ketika mereka lapar, haus dan ketika ada rasa tidak nyaman yang dirasa. Ketika balita, mereka belajar bagaimana meraih segala sesuatu yang inginkannya, mengetahui hal-hal yang ada di lingkungannya, mencari tahu mana yang enak ataupun tidak enak, baik melalui sentuhan fisik maupun melalui oral. Dengan seringnya mereka berinteraksi atau mendapat stimulus dari lingkungan, mereka akan paham apa yang dibutuhkan. Apa yang diinginkan. Apa yang tidak enak bagi dirinya pun akan dijauhinya.

Sampai beranjak dewasa pun kegiatan belajar ini masih berlangsung demi kehidupan yang lebih baik bagi dirinya di masa depan. Hanya dirinya yang mengetahui apa yang dinginkannya dan bagaimana meraihnya. Meskipun ketika diperjalanan menemui kesulitan dia pasti berfikir bagaimana mengatasinya. Berbagai cara difikirkan agar tercapai cita-citanya. Dengan melihat, mengulangi, memperhatikan dan memahami dia pasti menemukan jalan keluar dalam setiap situasi. Sampai dia mampu meraih cita-cita yang dicapainya.

Dia adalah anak kita, murid kita, keponakan kita, adik kita yang membutuhkan bimbingan dari kita. Kesabaran dalam membimbing adalah modal utama yang dibutuhkan. Bukan hanya fasilitas-fasilitas yang mempermudah langkahnya dalam meraih cita-cita. Tapi juga kesabaran dalam menemaninya melalui hal-hal sulit yang dialaminya. Dia pasti bisa melaluinya dengan sedikit bimbingan, dengan sedikit arahan, dengan sedikit contoh. Bimbingan yang dilakukan dengan kesabaran, arahan yang jelas dan contoh yang konsisten, pasti akan menemui hasil yang maksimal. Hasil yang pada akhirnya tidak hanya dapat dirasakan oleh dirinya tapi juga oleh kita sebagai orang terdekatnya.

 

Penulis: Eni Rosintan, S.Pd.I

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail