Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

Gambar terkait

Seorang bocah 5 tahun, sebut saja namanya Andy, menangis meraung terkejut melihat pemandangan di depannya begitu bangun dari tidur!

Ia melihat pintu dan jendela di rumah telah menjadi ganda, sementara neneknya yang mendengar tangisannya bergegas melihat cucunya, dan terkejut ketika melihat bola mata cucunya miring samping, matanya nyaris terlihat putih semua. Apa gerangan yang terjadi sebenarnya ?

Setelah diperiksa di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa Andy mengalami gejala strabismus. Bagaimana ceitanya bocah yang baru berusia 5 tahun mengalami strabismus (mata juling). Ternyata, karena ayahnya Andy sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tidak sempat menemami anak-anak, akhirnya membelikan iPad, ponsel dan perangkat elektronik terbaru lainnya untuk Andy. Semenjak usia 2 tahun, Andy telah menjadi salah satu komunitas Phubbing (istilah tindakan acuh seseorang di dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gadged dari pada membangun sebuah percakapan), hampir setiap hari menundukkan kepala fokus pada produk elektroniknya.

Dokter menuturkan, “Gejala strabismus anak-anak erat hubungannya dengan penggunaan produk elektronik.” Di televisi berulang kali terdengar berita tentang produk elektronik yang menyebabkan masalah pada mata anak-anak. tapi kenapa masalah terkait masih saja sering terjadi? Sebenarnya salah salah faktor yang menyebabkan anak-anak menjadi komunitas Phubbing, adalah kepala keluarga. Anak-anak tidak bisa apapun ketika lahir, kebiasaan-kebiasaan yang diketahuinya itu terutama berasal dari orang tua, dan orang tua adalah obyek yang ditiru oleh mereka. Contoh dari Andy ini bisa kita ketahui, bahwa pasangan orang tua anak ini tidak punya waktu untuk menemani anaknya, kemudian mereka membelikan produk elektronik untuknya, meskipun si anak menjadi tenang tidak merecoki orang tua lagi karena asyik bermain dengan gadgetnya,

tapi sebaiknya hati-hati jangan sampai berlebihan menggunakan mata (menatap layar ponsel dalam waktu lama).

Aturan dalam penggunaan produk elektronik:

1.Posisi yang benar

Saat mengutak-atik ponsel atau nonton TV, sebaiknya menjaga posisi tubuh yang benar. Sebisa mungkin layarnya ditegakkan dan letakkan secara vertikal, sehingga mata si bocah memandang layar secara datar, dan duduk dengan tegak.

2.Jaga kecerahan layar

Pilihlah kecerahan layar yang sesuai. Jika bermain di rumah pada malam hari, sebaiknya nyalakan lampu kamar, jangan mengutak-atik ponsel dalam kegelapan.

3.Tentukan batas waktu

Tentukan jadwal bermain anak-anak, setiap hari dikontrol waktu bermainnya, setiap kali bermain atau menatap/kontak layar jangan lebih dari 30 menit.

 

Kisah di atas hanya contoh sebagian dari kita yang memberikan kesenangan kepada anak yang tanpa disadari dapat merugikan dirinya jika tidak diimbangi dengan kontrol penggunaan dari fasilitas yang kita berikan. Lebih baik, ajak anak-anak kita bermain di luar ruangan yang disana mereka dapat melatih kemampuan motoriknya, interaksi dengan orang lain, melatih emosi, menambah pengetahuan tentang lingkungan sekitar dan banyak hal yang dapat dipelajari olehnya. Kita hanya memastikan lingkungan yang tidak membahayakan jiwanya.

 

Penulis: Eni Rosintan, S.Pd.I

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail